Sabtu, 21 Januari 2012
Dibonceng Dengan Sepeda Mini
Rabu, 07 Desember 2011
Asal Adek Bayi
Ini adalah percakapan terhebat dengan Qia (5 tahun). Saat itu jelang tidur,
Qia sambil berbaring bermain-main dengan Akmal adiknya yg baru usia 10 bulan.
Qia : "Bunda, gimana sih kok bisa ada bayi? Qia gak tahu."
Bunda : "Maksudnya?"
Qia : "Iya, Akmal kan dulu gak ada. Cuma ada Qia dan Bagas. Kok skr kenapa bisa ada Akmal?
Gimana sih bisa ada bayi?"
Bunda : "Ooooo...itu. Gini, ya. Mulanya Ayah dan Bunda menikah. Trus Bunda sama Ayah berdoa ke
Allah, supaya Bunda sama Ayah diberi anak bayi. Trus..('sempet bingung). Qia ingat kan pernah
dibacain buku Tuan Sperma dan Nyonya Ovum?"
Qia : "O iya iya. Qia ingat! Yang Tuan Sperma dan Nyonya Ovum bertemu itu, ya?"
(sebelumnya Qia udah sering dibacain buku 'Aku tahu Asal Muasalku')
Bunda : "Iya. Nah, setelah ketemu terus jadi satu telur.Trus, telur tadi sama Allah ditaruh dalam perut Bunda.
Di dalam perut, telur yg jadi satu itu jadi besar dan besar, trus lahir deh adek bayi."
Qia : "Oooo...jadi nanti di dalam perut Bunda, telinga keluar, hidung, mata, tangan,
kaki semuanya keluar.Jadi bayi."
Bunda : "Iya, betull."
Qia : "Trus, nanti telurnya menetas. Trus keluar deh dari perut, adek bayi."
Bunda : "Eit..eit..gimana kok bisa ada menetas segala? Maksudnya apa nih?
(sambil memandang Akmal, masak bayi selucu ini ditetaskan kayak ayam?)
Maksud Qia, Akmal keluar dari telur?"
Qia : "Iya."
Bunda : "Kayak ayam, dong." (sambil memandang tak tega ke Akmal)
Qia tertawa.
Bunda : "Maksud Qia, Akmal keluar dari telur waktu masih di dalam perut Bunda
atau di luar perut Bunda?"
Qia : "Di dalam perut Bunda, Akmal keluar dari telurnya! Trus dilahirkan!"
Bunda : "Ooooo...kirain. Enggak Qia. Dari telur itu tumbuh telinga, mata, hidung, kaki, tangan,
dan lain-lain.Jadi gak seperti ayam yang ada dalam telur. Jadi di sini telurnya langsung
berkembang jadi bayi. (Bingung juga, ya? Masak mau pake kata embrio, zigot?)
Jadi Akmal tidak di dalam telur seperti ayam waktu dalam perut Bunda."
Qia : "Oooo..jadi langsung, ya?"
Bunda : "Iya. Masak Akmal yang lucu ini di dalam telur? Menetas lagi? Untung aja menetasnya
masih dalam perut Bunda.Kalo menetasnya di luar perut Bunda,
berarti Bunda jadinya bertelur dongg...bukan melahirkan!"
Qia : "Ha ha ha ha ha ha!" (Tawa Qia meledak dijawab oleh Akmal dengan bahasa bayinya yang lucu,
ah uh ah uh!)
Percakapan malam itu begitu berkesan. Senangnya hati ini bisa menjawab keingintahuan anak tanpa harus berbohong.
Senin, 18 Juli 2011
Mendidik Anak
Mendidik anak memang susah gampang. Tak mungkin jadi dalam sehari, semua perlu waktu, semua perlu proses. Paling menyebalkan kalau kita sudah susah-susah mendidik anak dalam kebiasaan baik misalnya. Tiba-tiba karena sering main dengan kawan-kawannya, atau bahkan tidak sering main tapi kata-kata yang keluar dalam hal berkomunikasi menjadi dalam sekejap sangat berbekas di memori dan kebiasaan anak.
Misalnya dalam hal menanamkan kebiasaan baik. Anak dilarang bermain dengan berdiri di atas meja makan misalnya. Kalau anak sendiri, kita bisa langsung tegur. Kadang anak juga tidak merasa terima jika kawannya melakukan itu. Anak sendiri dilarang, tapi kawannya tidak dilarang walaupun di rumah kawan si anak sendiri. Kita hanya bisa menasihati anak kita, bahwa mereka tidak boleh melakukan itu. Yang paling repot, jika kawan anak kita melakukan hal tersebut di rumah kita sendiri. Walah, walah, walah....
Di sinilah pentingnya tarbiyatul aulad. Pendidikan anak tidak mengenal anak kita dan anak orang lain. Jadi untuk memudahkan, anggaplah kawan anak kita adalah anak kita juga. Jadi kita sebagai orang tua tidak akan sungkan-sungkan menegur dan meluruskan kawan anak kita jika mereka berbuat salah. Hal ini juga bisa menjadi pembelajaran pada anak kita sendiri, bahwa kita sebagai orang tua bersungguh-sungguh menerapkan kebiasaan baik. Dan yang paling penting anak kita sendiri akan merasakan adanya kesamaan ('keadilan') dalam mendidik....
*Thx, Teh Yuni, yang beberapa tahun lalu mengungkapkan tentang tarbiyatul aulad.
Buat Qia dan Bagas, teruslah bercerita apa-apa yang terjadi pada kalian...
Selasa, 08 Maret 2011
Melihat Akmal
Menulis tulisan ini sambil melihat Akmal. Bayiku yang baru berusia satu bulan. Anak ketigaku ini kalau dilihat sekilas mirip dengan Qia saat masih bayi. Walaupun Qia itu perempuan dan Akmal laki-laki. Sedangkan kalau dilihat lebih seksama, ada juga kemiripan dari Bagas. Mulut dan hidungnya mirip banget dengan Bagas. Apalagi kebiasaan yang selalu menarik bibirnya ke bawah apabila merasa 'tersinggung':D. Malam ini aku belum bisa tidur, karena sedang menunggu Akmal ngompol dan akan diganti dengan diaper, baru aku mau tidur.
Lucu sekali Akmal ini. Melihat Akmal serasa tak percaya. Anak sekecil itu bisa membesar seperti kakak-kakaknya yang lincah, banyak gerak, banyak ngomong, dan tak bisa diam itu. Apalagi Akmal memakai baju bayi yang pernah dipakai oleh 2 kakaknya Qia dan Bagas yang sekarang sudah membesar itu. Baju bayi tetap kecil, tapi yang memakai membesar. Rasanya tak percaya Qia yang 4 tahun, dan Bagas yang 2 tahun pernah memakai baju yang dipakai Akmal. Baju tiga generasi kata Bapakku. Dan kadang tak percaya juga, benarkah Qia dan Bagas pernah memakai baju yang sekarang dipakai Akmal:D. Karena Qia dan Bagas betul-betul anak-anak yang luar biasa. Lincah yang butuh ekstra kesabaran karena 'kekreatifan' mereka selama beraktivitas sepanjang hari. Qia dan Bagas yang super lincah, dulu kecil seperti Akmal.
Saat ada Akmal, rasanya seperti baru punya bayi. Padahal dia adalah anak ketiga. Benar, melihat Akmal rasanya seperti kembali ke jaman saat Qia masih bayi. Entah kenapa. Padahal saat baru ada Bagas rasa itu tidak ada. Saat baru ada Bagas, yang dirasakan adalah di rumah ada lebih dari satu batita yang harus diurus. Dan pengalaman punya anak lebih dari satu itulah yang dirasakan saat ada Bagas. Saat dimana mengasuh anak tak ada henti-hentinya. Huaaahhh..Rasa Akmal adalah seperti anak pertama mungkin terjadi karena aku sudah lupa bahwa aku pernah punya bayi. Mungkin juga waktuku terlalu disibukkan oleh kedua kakaknya yang lincah, yang sudah sibuk berlari kesana kemari sehingga aku jadi lupa bahwa Qia dan Bagas juga dulu adalah bayi. Qia dan Bagas dulu juga bayi yang lucu seperti Akmal.
Sepertinya yang merasakan itu bukan aku saja. Tapi Bapak Ibu juga. Yah mungkin sebabnya sama kali, yaa..Whatever kami senang ada Akmal. Qia dan Bagas juga sayang dan senang terhadap Akmal. Rumah jadi semakin ramai, walau kadang kepalaku jadi pusing karena ulah mereka. Semoga Bunda tetap bisa mendampingi kalian tumbuh yaaa anak-anakku sayangg....
by Wiwik Hidayati
Rabu, 09 Maret 2011 pukul 00.17
Sambil melihat Akmal dan dia belum ngompol juga...
Selasa, 09 November 2010
Sosok Bapak Tercinta

Oleh bidadari_Azzam
Beliau tak banyak bicara, namun jika mulai bercerita, pasti sulit menyudahinya. Wajahnya tampak sangar, kata teman-temanku. Namun jika beliau melempar senyum, maka keramahan yang tulus terpancar jelas di matanya. Penampilan beliau sangat necis, rapi sekali, sepatu tanpa debu, celana panjangnya mulus selalu, seperti usai disetrika. Yah, bapak yang sangat “dekat” denganku, sangat menjaga dan memperhatikan putra-putrinya. Salut dan bangga kami, bersyukur padaNYA yang mengirimkan kami seorang bapak sehebat beliau.
Kalian pasti tak tau bahwa di balik penampilan necisnya, beliau sangat mandiri. Celana mulus dan rapinya terkadang disetrika sendiri. Kemeja dan celana beliau selalu awet, tidak kusam, tidak kusut, tampak seperti baru walaupun sudah puluhan tahun dipakai. Bapak sering merendam pakaian sendiri, mencuci, mengangkat jemuran, menyetrika, bahkan memasak sendiri, padahal dinas kerjanya “shift-shift-an”, kadang pagi, sore ataupun malam, pasti lelah! Subhanalloh… Hal tersebut dilakukan beliau karena tergugah rasa hatinya untuk membantu sang istri yang saat itu memiliki anak-anak kecil dan bayi-bayi, enam putra-putri. Tetangga kanan kiri terbiasa melihat beliau menyapu teras, mengelap jendela atau sepeda motornya, juga membersihkan halaman, kadang-kadang bersama sang istri, mesra sekali bekerja sama saat berbenah seperti itu.
Kemudian ketika anak-anak sudah lumayan besar, barulah bapak mengajarkan mereka perlahan, Saya dan kakak diajarkan menyapu, mencuci piring, menyetrika dengan baik, dan pekerjaan rumah lainnya oleh beliau. Khususnya Saya yang hampir bontot, serta dijuluki si tangan pena gara-gara lebih rapi kalau menulis dibandingkan saat melipat pakaian atau urusan dapur, bapak mengajarkan ilmu “nyuci-nyetrika” saat Saya mulai masuk kuliah, pertama kalinya berpisah jauh dengan orang tua. Sejak kecil kala menerima raport dengan nilai terbaik sebagai juara, yang mengambil raport adalah ibuku sebab bapak sedang dinas. Namun yang namanya lebih beken adalah bapakku, sebab memang di kompleks perumahan kami, berita lebih cepat terdengar melalui bapak-bapak, yang satu shift kerja, satu tim olahraga, atau satu tim ronda.
Saya masih ingat, bapak sering memandikan anak-anaknya, terutama sore hari, kala ibu menyiapkan kudapan teh sore. Kemudian ketika kami satu persatu mulai lebih sibuk, kakak kuliah, ada yang s-m-a, s-m-p, Saya yang masih SD sering dijemput pulang sekolah. Ketika beliau sibuk menjemput kakak-kakak lainnya, Saya disuruh bersepeda ke sekolah dengan menyemangati bahwa olahraga sepeda sangat menyehatkan. Beliau nasehati untuk bersepeda bareng dengan tetanggaku yang satu sekolah. Kalau sepeda rusak, “mang Otong” sebagai mantan sopir beliau (yang berubah posisi menjadi pengayuh becak) akan menjemput Saya ataupun kakak lainnya. Berjalan kaki sering, terutama di siang hari. Bapak sangat protektif terhadap anak-anaknya, terutama empat putrinya. Jika kami pulang les atau ekskul namun hari menjelang maghrib, bapak dan ibu sudah menanti di depan pintu, sungguh perhatian mereka sangat besar dan mengharukan.
Makanya saya heran dengan remaja sekarang, kenapa mudah sekali bepergian di malam hari sendirian, dan jika orang tua menasehati, dikira “over-proteksi”. Saya pernah saling curhat dengan guru sekolah, guruku yang ramah dan baik hati, beliau berkisah bahwa papanya selalu mengantar-jemput sampai beliau lulus kuliah! Beliau harus melampirkan jadwal kuliah dan jadwal harian lainnya di rumah agar papa dan mamanya tau, dan jika pulang terlambat, akan dimarahi habis-habisan. Namun guruku ini sangat bersyukur, beliau mengerti kekhawatiran orang tuanya, apalagi dia berada di kota yang terkenal dengan istilah umum, “ayam kampus”. Sehingga beliau pun menasehati untuk banyak bersyukur karena memiliki orang tua yang penuh perhatian.
Untunglah bapakku tak segarang itu, bahkan marah pun jarang. Kalau beliau marah, pasti diam. Dan diamnya itu sangat mengerikan buat kami, seolah berkata “silakan urus diri kalian masing-masing”. Tentulah kami menjadi sangat segan padanya, tidak ingin membuaatnya marah atau terluka.
Setiap hari pulang kerja, bapak membawa telur rebus (direbus saat senggang di kantornya) dan susu UHT buatku dan adik. Kalau di antara kami sakit dan harus dirawat di rumah sakit, bapak yang sibuk mondar-mandir antara rumah dan rumah sakit, beliau meminta ibuku yang menjaga di rumah sakit, sedangkan urusan rumah, beliau yang mengambil alih, subhanalloh, rumah kami tetap bersih dan rapi, padahal tentulah lelah usai beliau bekerja seharian.
Selanjutnya tatkala 13 tahun lalu beliau bingung dengan kegigihanku ingin menggunakan hijab, namun beberapa bulan sebelum awal masuk sekolah yang baru, Bapak memberikan dana kepada ibuku, “belilah pakaian seragam baru dan kerudung seperti yang anakmu inginkan…”. Dugaanku, sahabat-sahabat beliau memberikan saran yang baik tentang ini.
Suatu peristiwa yang membuat bapak “mendiamkan Saya”, saat awal kuliah semester dua, Saya malah minta izin buat ujian SPMB lagi tahun berikutnya dan untuk menikah di usia yang baginya sangat belia. Saya dikira mengalami gangguan jiwa apalagi calon suami adalah mahasiswa berbeda pulau, berbeda latar belakang, ‘maisyah’ seorang mahasiswa tentulah tak seberapa. Bapak marah besar. Sikap beliau merasa seolah “ ada apa ini ? sehebat apa sih mahasiswa itu sehingga kamu ingin menikah padahal Bapak kan memenuhi semua keperluanmu”. Benar. Bergulirnya waktu di tahap khitbah itu, saat bapak masih syok dan belum sepenuhnya ikhlas, malah beliau perlahan mengajariku berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya, “sulit lho… ngurus suami, ngurus kuliah, ngurus anak pula…”, Saya melihat sikap beliau berusaha tegar. Dan mamandaku bercerita, “malam itu bapak menangis seraya berkata,’Saya sulit melepas anak perempuanku’…”. Di saat super sedihnya itu, beliau masih menyiapkan bekal cincin emas buat simpananku.
Atas kebesaran Allah SWT, Dia Sang Penjaga Hati setiap insan, selalu menjaga kemudahan dan kelancaran rumah tangga kami, yang mana dalam hitungan satu tahun pertama adanya puncak kesulitan mengatur emosi, memahami satu sama lain, serta menata jadwal perkuliahan dengan urusan rumah tangga yang saat itu memiliki si sulung Azzam yang baru lahir. Tatkala awal kelahiran si sulung, Bapak menggendongnya, seraya berbisik, “utamakan keluarga… suami dan anak-anakmu harus didahulukan daripada kuliahmu itu,” nada suaranya menasehati bercampur sedikit kecewa.
Namun tahun selanjutnya, semakin penuh senyum wajahnya melihat kesungguhan kami melalui tangga-tangga kehidupan berumah tangga. Saya kembali menikmati canda dan tawa bersama beliau, bersama motor kesayangannya, bersama menikmati pempek atau martabak kesukaan kami, apalagi beliau makin menjadi sosok bapak yang sholeh, 5 tahun lalu bapak dan ibu telah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan awal tahun lalu kami berlibur ke negara tetangga, di suatu pulau yang dikelilingi pantai seraya menyambut cucu kesembilan baginya, yang baru kulahirkan. Suatu malam sebelum berangkat ke acara wisudaku, ibuku kembali berkata, “bapak menangis… (lagi)”. Dulu tangisnya mungkin merupakan kebingungan dan berkecamuk rasa kecewa padaku, namun tangis yang satu ini adalah tangis kebahagiaan, serta rasa syukur kepadaNya, “ternyata kamu memang anak wanita yang tetap bapak banggakan, pilihanmu dulu adalah jalan yang terbaik, malah merupakan petunjuk dan pelajaran buat orang tua,” seraya beliau panjang lebar memujiku dan suamiku atas tekad dan semangat juang dalam rumah tangga muda ini.
Suamiku yang sering menggoda, “kamu anak bapak banget…”, ternyata juga mengacungi jempol untuk bapak, “sekarang aku malah malu sekali kalau ingat kisah dulu, aku tau banget perasaan seorang bapak saat sekarang sudah jadi bapak. Dulu koq aku berani banget melamar kamu, padahal masih mahasiswa, cuma jagain lab plus ngajar privat doank, ehhh…trus sok dewasa bilang ‘atas nama Allah’ Saya akan jaga anak bapak…ckckck…untunglah punya bapak yang pemaaf dan selalu optimis, ya mi… aku mungkin tidak sehebat bapakmu, mi… Kata bapak, semasa anak-anaknya balita, kalau susah BAB(buang air besar), maka bapak sendiri yang melakukan cara manual (maaf, mengisap bagian anus agar ada reaksi ingin BAB, maksudnya begitu), kalau anak-anaknya ingusan/pilek, bapak menghisap ingus tersebut sampai benar-benar bersih, kalau anak-anaknya terluka, bapak isap juga darah tersebut lalu beliau meludah, barulah ditutup dengan obat luka. Kalau aku,mungkin masih merasa jijik melakukan itu, mi… sorry… “, urainya. Duhai Bapak tercinta, terima kasih banyak atas dukunganmu di saat orang lain tidak mendukung kami...
Dalam sebuah hadits Al-Bukhari, diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya menemuiku untuk meminta (sedekah), namun ia tidak menemukan apa pun padaku kecuali sebuah kurma yang kuberikan kepadanya dan ia bagi dua untuk anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak memakannya, setelah itu ia pun bangun dan pergi. Kemudian Nabi Muhammad Saw menemuiku dan kuberitahukan kejadian itu kepadanya. Maka Nabi Muhammad Saw bersabda, “siapa pun yang diuji dengan anak-anak perempuannya dan ia menyenangkan mereka dengan kebajikan maka anak-anak perempuannya akan menjadi perisai mereka dari api neraka”.
Duhai bapak, saat orang lain merasakan jauh dengan orang tuanya, efek globalisasi yang membuat hubungan orang tua dan anak merenggang, malah engkau tetap harmonis bersama anak-anakmu, Terima kasih Ya Allah, engkau memberikan bapak terbaik buatku.
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa menanggung dua anak perempuan hingga baligh, ia akan datang pada hari kiamat bersamaku’. Rasulullah SAW lalu menyatukan jari-jari beliau.” (HR. Muslim, no. 2631)dalam riwayat Imam Ahmad dll juga disebutkan kata “dua atau tiga anak perempuan…” serta “atau saudara perempuan”, Semoga kami selaku anak-anak perempuan dapat menjadi ‘simpanan akhirat’ sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut.
Wallohu’alam…
(Selamat hari Lahir Bapak kami yang bangga memiliki 2 putra dan 4 putrinya, 65 tahun, dengan 9 cucu, tanpa uban, iringan doa ananda selalu, Krakow, akhir September 2010)
Sumber : Oase Iman - Eramuslim
Kamis, 25 Maret 2010
Pengasuhnya Bunda aja...

Akhir-akhir ini lagi gak ada ide untuk nulis. Sekarang yang lagi dirasa adalah rasa capek luar biasa. Dua anak yang makin lincah seperti panjat tralis jendela, panjat lemari bufet, berdiri di atas lemari membutuhkan perhatian ekstra. Mata yang harus awas, mulut yang terus ngomel tapi tetap saja tak digubris oleh dua bocah cilik itu. Membuat diri ini merasa seperti kaset rusak:((. Tapi tetap saja walaupun sudah berusaha untuk menjaga keamanan dua bocah itu, ada aja yang merasa kesakitan. Contoh Qia yang si 3.5 tahun langsung nangis begitu kepalanya nyenggol sudut bufet. Tangisannya begitu menyayat hati, keras dan melengking. Bagas (1.5 tahun) tak tahu kenapa, tiba-tiba dia sudah terjatuh dari atas sandaran kursi tamu dengan posisi seperti cicak jatuh (alhamdulillah gak kena kepala). Langsung dia menangis, setelah melihat kondisinya yang aman-aman aja langsung kutenangin aja walau dalam hati geli juga, hihihi.
Sebenarnya malas nulis, idenya sih udah ada dari duluuuu... Tapi males. Sekarang aja nulis karena disuruh sama ayahnya anak-anak:p. Tapi tetap saja gak ada gairah (gak ada ruh). Tapi kata penulis yang udah terkenal walaupun gak ada gairah untuk nulis, harus dipaksa untuk menulis. Gak boleh kosong untuk berkarya. Betulll??? Tullll!!!!.....Balik lagi ke topik. Saat-saat sedang mengasuh anak di luar, kadang ada tetangga yang juga sedang mengajak main anaknya. Di sana lalu kami berbincang.
"Bu Ganjar, kenapa tidak cari pembantu yang nginep aja? Bu Ganjar kan kerja. Jadi kerjanya bisa enak. Ada yang ngasuh anak-anak, " kata seorang ibu tetangga. Aku jawab aja, "Iya gapapa. Pembantu yang gak nginep juga. Saya cuma butuh yang beres-beres aja trus pulang. Ngasuh sama saya aja.Lagian percuma klo ada pembantu tapi anak-anak gak mau. "
Lalu dalam hati saya berkata, bukan hanya anak-anak saya aja yang gak mau, tapi saya juga gak mau. Masa anak-anak hanya sebentar saja, setelah mereka tumbuh mana mau mereka menghabiskan waktu dengan orang tua saja. Mereka mungkin telah bergaul dengan luas, pergi kesana sini. Bergaul dengan teman-temannya, etc.
Teringat dengan perkataan salah seorang dosen saya, ketika tahun 2007 yang lalu main ke kampus. Bertiga dengan seorang teman kami ngobrol. Lalu saya bilang, ingin kerja lagi. Lalu dosen saya menegur, "Ngapain kamu kerja lagi? Mendingan kamu di rumah aja ngurus anak. Kamu rawat, anterin sekolah dan ditungguin, kamu layanin dia baik-baik. Entar klo anak kamu dah bisa ditinggal, bisa kamu kerja lagi. Gak ada ruginya. Nanti klo anak kamu sudah besar kamu akan terus merasakan kedekatan kamu dengan anak-anak. Karena anak-anak akan terus memperhatikan kamu, walau kamu secara fisik sudah jauh dengan anak-anak. Bla-bla-bla....." Sampai sekarang obrolan itu masih terngiang-ngiang dan jadi inspirasi untuk tetap di rumah.Thanks, Bu Hira.
Seiring dengan berjalannya waktu, jenuh juga di rumah. Otak terasa mampet, jutekkk. Pengen kerja. Pengen menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah, tapi gak pengen ninggalin anak. Alhamdulillah ada yang nawarin jadi karyawan satu perusahaan, kerja di rumah. Jam kerjanya antara jam 01.00 sampai subuh. Hihihi. Emang berkurang juga waktu istirahat. Tapi gapapa, bisa dibalas siang klo anak-anak ngantuk bareng, jadi bisa tidur bareng deh. Paling sial tidurnya malem, kalo anak-anak ngantuknya ga bareng. Satu tidur satu enggak. Tidurnya gantian, jadi gak bisa tidur. Gapapa lahhh. Sudah bersyukur dah ada yang mau menerima diri ini. (Thanks, asb). Kan gajinya bisa dipake jalan-jalan belanja makanan kecil ke supermarket dekat kantor bertiga sepulang dari kantor sama Qia dan Bagas. Fuihh, antusias sekali mereka klo diajak ke supermarket ngambil barang sana-sini. Gak tau diri ini yang harus bayar..tapi ga pa pa, hihihi...
Balik lagi. Pada satu kesempatan dari balik jendela dalam rumah, aku dan Qia melihat seorang anak dengan pengasuhnya. Lalu Qia bertanya, "Mau kemana, Lili sama ibunya, ya Bunda?"
Lalu aku jawab, "Itu bukan ibunya, Qia. Tapi pengasuhnya. Ibunya kerja." Lalu spontan aku tanya dia, "Qia mau kalo Bunda kerja, lalu Qia dan Bagas diasuh sama orang lain?"
Mulut polosnya menjawab, "Enggak. Qia mau sama Bunda aja." Hmmm, aku jadi mikir-mikir sebenernya apa yang ada di benak Qia, ya?
Pada satu kesempatan, saat menemani Qia jongkok di kloset, Qia berkata, "Bunda, Qia mau pengasuh Qia dan Bagas Bunda aja." Aku kaget dan sekaligus tersanjung ternyata anakku menginginkanku. Sesaat ada rasa bangga (bukan bermaksud ujub, lho yaa). Padahal sehari-hari bersamanya aku merasa bukan seperti ibu yang baik. Aku bukan ibu yang sabar, lembut, etc yang baik-baik. Bahkan cenderung "kadang metal". Tapi nyatanya anak-anak senang bersamaku. Well, anak-anak. Doain, Bunda agar senantiasa sabar dalam mendidik kalian, senantiasa menyayangi kalian apa adanya. Doain Bunda, agar Bunda selalu ada ketika kalian membutuhkan Bunda yaaaa......
Sabtu, 27 Maret 2010 pukul 00.48
by Wiwik Hidayati
Kamis, 14 Januari 2010
Anak Adalah Guru Pintar

Sehari-hari bersama 2 anak yang lucu, super lincah, aktif, sering ribut, banyak tanya mengajarkan banyak hal. Gak percaya ? Ini buktinya.
1. Anak bisa mengajarkan kita Ilmu kedokteran
Dulu saya paling anti ilmu biologi. Tapi setelah punya anak dan mengikuti tumbuh kembangnya saya jadi mengerti yang namanya metabolisme tubuh, sistem kerja tubuh, dll. Misalnya Qia anak saya yg pertama, dari umur setaun dia susah BAB, setelah diperiksa dia divonis menderita trauma "anu" (lupa) yg mengakibatkan adanya ketakutan yg tanpa disadari babnya mungkin masuk kembali karena dulu babnya sering keras. Dari sini saya jadi tahu bagaimana kerja usus. Trus klo anak saya batuk pilek,mencret, alergi (bagas yg kena nih) penyebabnya bagaimana dan mengatasinya. Sampai2 pengaruhnya ke kalenjar getah bening, dll. Uahh..dulu paling anti nihh, dulu waktu smu lebih suka sama angka2;)).
2. Anak bisa mengajarkan kita Ilmu Psikologi Anak
Ada masa tumbuh kembang anak dalam setiap periode usia, kita perlu penanganan berbeda. Contoh, Qia anak pertama sekarang lagi senengnya menunjukkan kekuasaannya, bener2 gak mau diperintah. Sementara Bagas adiknya setaun senang meniru keaktifan kakaknya. Nah, bagaimana kita bisa memfasilitasi kebutuhan mereka, itu sih pinter2nya kita, yaaa...Ini paling bikin pusing aku dan sering bikin aku marah2;))
3. Anak bisa mengajarkan kita Jago Memasak
HEHEHE. Dulu waktu baru ada Qia yg umurnya setaun, tiap malam pusing mikirin Qia mau dikasih makan apa. Sekarang sih cuek aja;)). Daripada puyeng. Emang anaknya bosenan sampai sekarang, klo Bagas senengnya lepeh sana sini. Tuhhh kannn itu tugas Ibunya bagaimana membuat mereka mau makan. Jangan paksain mereka makan masakan yg gak enak. Kita yg orang dewasa aja gak mauuu...
4. Anak bisa mengajarkan jadi GURU SERBA BISA
Ngajarin anak kan harus bisa apa aja, yaa.. Dari matematika, baca, dongeng, ngaji2, bahasa, bla3x..segala lahh. Malu kan klo kliatan 'oon' dimata anak. Selama ini kita sebagai ortu kan seperti sok berkuasa, ya otak harus encer dongg..
5. Anak bisa mengajarkan kita jadi TELADAN
Kita sebagai ortu kan jadi contoh buat anak2, yaaa...Jangan harap anak jadi baik klo kita ortunya ngasih contoh yg jelek2.
6. Anak bisa mengajarkan kita jadi ORANG YG SUPER SABARRR
Ini yg paling berat menurut saya. Sabarrr..Dan sabar tidak ada batasnya. Apalagi klo sama anak. Sampai dewasa kita harus tetap bersabar pada mereka. Sabar terhadap segala hal yg dilakukan anak..
Kalian bener2 profesor besar buat Bunda...
