Selasa, 09 November 2010

Sosok Bapak Tercinta







Oleh bidadari_Azzam

Beliau tak banyak bicara, namun jika mulai bercerita, pasti sulit menyudahinya. Wajahnya tampak sangar, kata teman-temanku. Namun jika beliau melempar senyum, maka keramahan yang tulus terpancar jelas di matanya. Penampilan beliau sangat necis, rapi sekali, sepatu tanpa debu, celana panjangnya mulus selalu, seperti usai disetrika. Yah, bapak yang sangat “dekat” denganku, sangat menjaga dan memperhatikan putra-putrinya. Salut dan bangga kami, bersyukur padaNYA yang mengirimkan kami seorang bapak sehebat beliau.

Kalian pasti tak tau bahwa di balik penampilan necisnya, beliau sangat mandiri. Celana mulus dan rapinya terkadang disetrika sendiri. Kemeja dan celana beliau selalu awet, tidak kusam, tidak kusut, tampak seperti baru walaupun sudah puluhan tahun dipakai. Bapak sering merendam pakaian sendiri, mencuci, mengangkat jemuran, menyetrika, bahkan memasak sendiri, padahal dinas kerjanya “shift-shift-an”, kadang pagi, sore ataupun malam, pasti lelah! Subhanalloh… Hal tersebut dilakukan beliau karena tergugah rasa hatinya untuk membantu sang istri yang saat itu memiliki anak-anak kecil dan bayi-bayi, enam putra-putri. Tetangga kanan kiri terbiasa melihat beliau menyapu teras, mengelap jendela atau sepeda motornya, juga membersihkan halaman, kadang-kadang bersama sang istri, mesra sekali bekerja sama saat berbenah seperti itu.

Kemudian ketika anak-anak sudah lumayan besar, barulah bapak mengajarkan mereka perlahan, Saya dan kakak diajarkan menyapu, mencuci piring, menyetrika dengan baik, dan pekerjaan rumah lainnya oleh beliau. Khususnya Saya yang hampir bontot, serta dijuluki si tangan pena gara-gara lebih rapi kalau menulis dibandingkan saat melipat pakaian atau urusan dapur, bapak mengajarkan ilmu “nyuci-nyetrika” saat Saya mulai masuk kuliah, pertama kalinya berpisah jauh dengan orang tua. Sejak kecil kala menerima raport dengan nilai terbaik sebagai juara, yang mengambil raport adalah ibuku sebab bapak sedang dinas. Namun yang namanya lebih beken adalah bapakku, sebab memang di kompleks perumahan kami, berita lebih cepat terdengar melalui bapak-bapak, yang satu shift kerja, satu tim olahraga, atau satu tim ronda.

Saya masih ingat, bapak sering memandikan anak-anaknya, terutama sore hari, kala ibu menyiapkan kudapan teh sore. Kemudian ketika kami satu persatu mulai lebih sibuk, kakak kuliah, ada yang s-m-a, s-m-p, Saya yang masih SD sering dijemput pulang sekolah. Ketika beliau sibuk menjemput kakak-kakak lainnya, Saya disuruh bersepeda ke sekolah dengan menyemangati bahwa olahraga sepeda sangat menyehatkan. Beliau nasehati untuk bersepeda bareng dengan tetanggaku yang satu sekolah. Kalau sepeda rusak, “mang Otong” sebagai mantan sopir beliau (yang berubah posisi menjadi pengayuh becak) akan menjemput Saya ataupun kakak lainnya. Berjalan kaki sering, terutama di siang hari. Bapak sangat protektif terhadap anak-anaknya, terutama empat putrinya. Jika kami pulang les atau ekskul namun hari menjelang maghrib, bapak dan ibu sudah menanti di depan pintu, sungguh perhatian mereka sangat besar dan mengharukan.

Makanya saya heran dengan remaja sekarang, kenapa mudah sekali bepergian di malam hari sendirian, dan jika orang tua menasehati, dikira “over-proteksi”. Saya pernah saling curhat dengan guru sekolah, guruku yang ramah dan baik hati, beliau berkisah bahwa papanya selalu mengantar-jemput sampai beliau lulus kuliah! Beliau harus melampirkan jadwal kuliah dan jadwal harian lainnya di rumah agar papa dan mamanya tau, dan jika pulang terlambat, akan dimarahi habis-habisan. Namun guruku ini sangat bersyukur, beliau mengerti kekhawatiran orang tuanya, apalagi dia berada di kota yang terkenal dengan istilah umum, “ayam kampus”. Sehingga beliau pun menasehati untuk banyak bersyukur karena memiliki orang tua yang penuh perhatian.

Untunglah bapakku tak segarang itu, bahkan marah pun jarang. Kalau beliau marah, pasti diam. Dan diamnya itu sangat mengerikan buat kami, seolah berkata “silakan urus diri kalian masing-masing”. Tentulah kami menjadi sangat segan padanya, tidak ingin membuaatnya marah atau terluka.

Setiap hari pulang kerja, bapak membawa telur rebus (direbus saat senggang di kantornya) dan susu UHT buatku dan adik. Kalau di antara kami sakit dan harus dirawat di rumah sakit, bapak yang sibuk mondar-mandir antara rumah dan rumah sakit, beliau meminta ibuku yang menjaga di rumah sakit, sedangkan urusan rumah, beliau yang mengambil alih, subhanalloh, rumah kami tetap bersih dan rapi, padahal tentulah lelah usai beliau bekerja seharian.

Selanjutnya tatkala 13 tahun lalu beliau bingung dengan kegigihanku ingin menggunakan hijab, namun beberapa bulan sebelum awal masuk sekolah yang baru, Bapak memberikan dana kepada ibuku, “belilah pakaian seragam baru dan kerudung seperti yang anakmu inginkan…”. Dugaanku, sahabat-sahabat beliau memberikan saran yang baik tentang ini.

Suatu peristiwa yang membuat bapak “mendiamkan Saya”, saat awal kuliah semester dua, Saya malah minta izin buat ujian SPMB lagi tahun berikutnya dan untuk menikah di usia yang baginya sangat belia. Saya dikira mengalami gangguan jiwa apalagi calon suami adalah mahasiswa berbeda pulau, berbeda latar belakang, ‘maisyah’ seorang mahasiswa tentulah tak seberapa. Bapak marah besar. Sikap beliau merasa seolah “ ada apa ini ? sehebat apa sih mahasiswa itu sehingga kamu ingin menikah padahal Bapak kan memenuhi semua keperluanmu”. Benar. Bergulirnya waktu di tahap khitbah itu, saat bapak masih syok dan belum sepenuhnya ikhlas, malah beliau perlahan mengajariku berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya, “sulit lho… ngurus suami, ngurus kuliah, ngurus anak pula…”, Saya melihat sikap beliau berusaha tegar. Dan mamandaku bercerita, “malam itu bapak menangis seraya berkata,’Saya sulit melepas anak perempuanku’…”. Di saat super sedihnya itu, beliau masih menyiapkan bekal cincin emas buat simpananku.

Atas kebesaran Allah SWT, Dia Sang Penjaga Hati setiap insan, selalu menjaga kemudahan dan kelancaran rumah tangga kami, yang mana dalam hitungan satu tahun pertama adanya puncak kesulitan mengatur emosi, memahami satu sama lain, serta menata jadwal perkuliahan dengan urusan rumah tangga yang saat itu memiliki si sulung Azzam yang baru lahir. Tatkala awal kelahiran si sulung, Bapak menggendongnya, seraya berbisik, “utamakan keluarga… suami dan anak-anakmu harus didahulukan daripada kuliahmu itu,” nada suaranya menasehati bercampur sedikit kecewa.

Namun tahun selanjutnya, semakin penuh senyum wajahnya melihat kesungguhan kami melalui tangga-tangga kehidupan berumah tangga. Saya kembali menikmati canda dan tawa bersama beliau, bersama motor kesayangannya, bersama menikmati pempek atau martabak kesukaan kami, apalagi beliau makin menjadi sosok bapak yang sholeh, 5 tahun lalu bapak dan ibu telah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan awal tahun lalu kami berlibur ke negara tetangga, di suatu pulau yang dikelilingi pantai seraya menyambut cucu kesembilan baginya, yang baru kulahirkan. Suatu malam sebelum berangkat ke acara wisudaku, ibuku kembali berkata, “bapak menangis… (lagi)”. Dulu tangisnya mungkin merupakan kebingungan dan berkecamuk rasa kecewa padaku, namun tangis yang satu ini adalah tangis kebahagiaan, serta rasa syukur kepadaNya, “ternyata kamu memang anak wanita yang tetap bapak banggakan, pilihanmu dulu adalah jalan yang terbaik, malah merupakan petunjuk dan pelajaran buat orang tua,” seraya beliau panjang lebar memujiku dan suamiku atas tekad dan semangat juang dalam rumah tangga muda ini.

Suamiku yang sering menggoda, “kamu anak bapak banget…”, ternyata juga mengacungi jempol untuk bapak, “sekarang aku malah malu sekali kalau ingat kisah dulu, aku tau banget perasaan seorang bapak saat sekarang sudah jadi bapak. Dulu koq aku berani banget melamar kamu, padahal masih mahasiswa, cuma jagain lab plus ngajar privat doank, ehhh…trus sok dewasa bilang ‘atas nama Allah’ Saya akan jaga anak bapak…ckckck…untunglah punya bapak yang pemaaf dan selalu optimis, ya mi… aku mungkin tidak sehebat bapakmu, mi… Kata bapak, semasa anak-anaknya balita, kalau susah BAB(buang air besar), maka bapak sendiri yang melakukan cara manual (maaf, mengisap bagian anus agar ada reaksi ingin BAB, maksudnya begitu), kalau anak-anaknya ingusan/pilek, bapak menghisap ingus tersebut sampai benar-benar bersih, kalau anak-anaknya terluka, bapak isap juga darah tersebut lalu beliau meludah, barulah ditutup dengan obat luka. Kalau aku,mungkin masih merasa jijik melakukan itu, mi… sorry… “, urainya. Duhai Bapak tercinta, terima kasih banyak atas dukunganmu di saat orang lain tidak mendukung kami...

Dalam sebuah hadits Al-Bukhari, diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya menemuiku untuk meminta (sedekah), namun ia tidak menemukan apa pun padaku kecuali sebuah kurma yang kuberikan kepadanya dan ia bagi dua untuk anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak memakannya, setelah itu ia pun bangun dan pergi. Kemudian Nabi Muhammad Saw menemuiku dan kuberitahukan kejadian itu kepadanya. Maka Nabi Muhammad Saw bersabda, “siapa pun yang diuji dengan anak-anak perempuannya dan ia menyenangkan mereka dengan kebajikan maka anak-anak perempuannya akan menjadi perisai mereka dari api neraka”.

Duhai bapak, saat orang lain merasakan jauh dengan orang tuanya, efek globalisasi yang membuat hubungan orang tua dan anak merenggang, malah engkau tetap harmonis bersama anak-anakmu, Terima kasih Ya Allah, engkau memberikan bapak terbaik buatku.

“Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa menanggung dua anak perempuan hingga baligh, ia akan datang pada hari kiamat bersamaku’. Rasulullah SAW lalu menyatukan jari-jari beliau.” (HR. Muslim, no. 2631)dalam riwayat Imam Ahmad dll juga disebutkan kata “dua atau tiga anak perempuan…” serta “atau saudara perempuan”, Semoga kami selaku anak-anak perempuan dapat menjadi ‘simpanan akhirat’ sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut.

Wallohu’alam…

(Selamat hari Lahir Bapak kami yang bangga memiliki 2 putra dan 4 putrinya, 65 tahun, dengan 9 cucu, tanpa uban, iringan doa ananda selalu, Krakow, akhir September 2010)

Sumber : Oase Iman - Eramuslim

Kamis, 25 Maret 2010

Pengasuhnya Bunda aja...




Akhir-akhir ini lagi gak ada ide untuk nulis. Sekarang yang lagi dirasa adalah rasa capek luar biasa. Dua anak yang makin lincah seperti panjat tralis jendela, panjat lemari bufet, berdiri di atas lemari membutuhkan perhatian ekstra. Mata yang harus awas, mulut yang terus ngomel tapi tetap saja tak digubris oleh dua bocah cilik itu. Membuat diri ini merasa seperti kaset rusak:((. Tapi tetap saja walaupun sudah berusaha untuk menjaga keamanan dua bocah itu, ada aja yang merasa kesakitan. Contoh Qia yang si 3.5 tahun langsung nangis begitu kepalanya nyenggol sudut bufet. Tangisannya begitu menyayat hati, keras dan melengking. Bagas (1.5 tahun) tak tahu kenapa, tiba-tiba dia sudah terjatuh dari atas sandaran kursi tamu dengan posisi seperti cicak jatuh (alhamdulillah gak kena kepala). Langsung dia menangis, setelah melihat kondisinya yang aman-aman aja langsung kutenangin aja walau dalam hati geli juga, hihihi.

Sebenarnya malas nulis, idenya sih udah ada dari duluuuu... Tapi males. Sekarang aja nulis karena disuruh sama ayahnya anak-anak:p. Tapi tetap saja gak ada gairah (gak ada ruh). Tapi kata penulis yang udah terkenal walaupun gak ada gairah untuk nulis, harus dipaksa untuk menulis. Gak boleh kosong untuk berkarya. Betulll??? Tullll!!!!.....Balik lagi ke topik. Saat-saat sedang mengasuh anak di luar, kadang ada tetangga yang juga sedang mengajak main anaknya. Di sana lalu kami berbincang.
"Bu Ganjar, kenapa tidak cari pembantu yang nginep aja? Bu Ganjar kan kerja. Jadi kerjanya bisa enak. Ada yang ngasuh anak-anak, " kata seorang ibu tetangga. Aku jawab aja, "Iya gapapa. Pembantu yang gak nginep juga. Saya cuma butuh yang beres-beres aja trus pulang. Ngasuh sama saya aja.Lagian percuma klo ada pembantu tapi anak-anak gak mau. "
Lalu dalam hati saya berkata, bukan hanya anak-anak saya aja yang gak mau, tapi saya juga gak mau. Masa anak-anak hanya sebentar saja, setelah mereka tumbuh mana mau mereka menghabiskan waktu dengan orang tua saja. Mereka mungkin telah bergaul dengan luas, pergi kesana sini. Bergaul dengan teman-temannya, etc.

Teringat dengan perkataan salah seorang dosen saya, ketika tahun 2007 yang lalu main ke kampus. Bertiga dengan seorang teman kami ngobrol. Lalu saya bilang, ingin kerja lagi. Lalu dosen saya menegur, "Ngapain kamu kerja lagi? Mendingan kamu di rumah aja ngurus anak. Kamu rawat, anterin sekolah dan ditungguin, kamu layanin dia baik-baik. Entar klo anak kamu dah bisa ditinggal, bisa kamu kerja lagi. Gak ada ruginya. Nanti klo anak kamu sudah besar kamu akan terus merasakan kedekatan kamu dengan anak-anak. Karena anak-anak akan terus memperhatikan kamu, walau kamu secara fisik sudah jauh dengan anak-anak. Bla-bla-bla....." Sampai sekarang obrolan itu masih terngiang-ngiang dan jadi inspirasi untuk tetap di rumah.Thanks, Bu Hira.

Seiring dengan berjalannya waktu, jenuh juga di rumah. Otak terasa mampet, jutekkk. Pengen kerja. Pengen menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah, tapi gak pengen ninggalin anak. Alhamdulillah ada yang nawarin jadi karyawan satu perusahaan, kerja di rumah. Jam kerjanya antara jam 01.00 sampai subuh. Hihihi. Emang berkurang juga waktu istirahat. Tapi gapapa, bisa dibalas siang klo anak-anak ngantuk bareng, jadi bisa tidur bareng deh. Paling sial tidurnya malem, kalo anak-anak ngantuknya ga bareng. Satu tidur satu enggak. Tidurnya gantian, jadi gak bisa tidur. Gapapa lahhh. Sudah bersyukur dah ada yang mau menerima diri ini. (Thanks, asb). Kan gajinya bisa dipake jalan-jalan belanja makanan kecil ke supermarket dekat kantor bertiga sepulang dari kantor sama Qia dan Bagas. Fuihh, antusias sekali mereka klo diajak ke supermarket ngambil barang sana-sini. Gak tau diri ini yang harus bayar..tapi ga pa pa, hihihi...

Balik lagi. Pada satu kesempatan dari balik jendela dalam rumah, aku dan Qia melihat seorang anak dengan pengasuhnya. Lalu Qia bertanya, "Mau kemana, Lili sama ibunya, ya Bunda?"
Lalu aku jawab, "Itu bukan ibunya, Qia. Tapi pengasuhnya. Ibunya kerja." Lalu spontan aku tanya dia, "Qia mau kalo Bunda kerja, lalu Qia dan Bagas diasuh sama orang lain?"
Mulut polosnya menjawab, "Enggak. Qia mau sama Bunda aja." Hmmm, aku jadi mikir-mikir sebenernya apa yang ada di benak Qia, ya?

Pada satu kesempatan, saat menemani Qia jongkok di kloset, Qia berkata, "Bunda, Qia mau pengasuh Qia dan Bagas Bunda aja." Aku kaget dan sekaligus tersanjung ternyata anakku menginginkanku. Sesaat ada rasa bangga (bukan bermaksud ujub, lho yaa). Padahal sehari-hari bersamanya aku merasa bukan seperti ibu yang baik. Aku bukan ibu yang sabar, lembut, etc yang baik-baik. Bahkan cenderung "kadang metal". Tapi nyatanya anak-anak senang bersamaku. Well, anak-anak. Doain, Bunda agar senantiasa sabar dalam mendidik kalian, senantiasa menyayangi kalian apa adanya. Doain Bunda, agar Bunda selalu ada ketika kalian membutuhkan Bunda yaaaa......

Sabtu, 27 Maret 2010 pukul 00.48
by Wiwik Hidayati

Kamis, 14 Januari 2010

Anak Adalah Guru Pintar



Sehari-hari bersama 2 anak yang lucu, super lincah, aktif, sering ribut, banyak tanya mengajarkan banyak hal. Gak percaya ? Ini buktinya.

1. Anak bisa mengajarkan kita Ilmu kedokteran
Dulu saya paling anti ilmu biologi. Tapi setelah punya anak dan mengikuti tumbuh kembangnya saya jadi mengerti yang namanya metabolisme tubuh, sistem kerja tubuh, dll. Misalnya Qia anak saya yg pertama, dari umur setaun dia susah BAB, setelah diperiksa dia divonis menderita trauma "anu" (lupa) yg mengakibatkan adanya ketakutan yg tanpa disadari babnya mungkin masuk kembali karena dulu babnya sering keras. Dari sini saya jadi tahu bagaimana kerja usus. Trus klo anak saya batuk pilek,mencret, alergi (bagas yg kena nih) penyebabnya bagaimana dan mengatasinya. Sampai2 pengaruhnya ke kalenjar getah bening, dll. Uahh..dulu paling anti nihh, dulu waktu smu lebih suka sama angka2;)).

2. Anak bisa mengajarkan kita Ilmu Psikologi Anak
Ada masa tumbuh kembang anak dalam setiap periode usia, kita perlu penanganan berbeda. Contoh, Qia anak pertama sekarang lagi senengnya menunjukkan kekuasaannya, bener2 gak mau diperintah. Sementara Bagas adiknya setaun senang meniru keaktifan kakaknya. Nah, bagaimana kita bisa memfasilitasi kebutuhan mereka, itu sih pinter2nya kita, yaaa...Ini paling bikin pusing aku dan sering bikin aku marah2;))

3. Anak bisa mengajarkan kita Jago Memasak
HEHEHE. Dulu waktu baru ada Qia yg umurnya setaun, tiap malam pusing mikirin Qia mau dikasih makan apa. Sekarang sih cuek aja;)). Daripada puyeng. Emang anaknya bosenan sampai sekarang, klo Bagas senengnya lepeh sana sini. Tuhhh kannn itu tugas Ibunya bagaimana membuat mereka mau makan. Jangan paksain mereka makan masakan yg gak enak. Kita yg orang dewasa aja gak mauuu...

4. Anak bisa mengajarkan jadi GURU SERBA BISA
Ngajarin anak kan harus bisa apa aja, yaa.. Dari matematika, baca, dongeng, ngaji2, bahasa, bla3x..segala lahh. Malu kan klo kliatan 'oon' dimata anak. Selama ini kita sebagai ortu kan seperti sok berkuasa, ya otak harus encer dongg..

5. Anak bisa mengajarkan kita jadi TELADAN
Kita sebagai ortu kan jadi contoh buat anak2, yaaa...Jangan harap anak jadi baik klo kita ortunya ngasih contoh yg jelek2.

6. Anak bisa mengajarkan kita jadi ORANG YG SUPER SABARRR
Ini yg paling berat menurut saya. Sabarrr..Dan sabar tidak ada batasnya. Apalagi klo sama anak. Sampai dewasa kita harus tetap bersabar pada mereka. Sabar terhadap segala hal yg dilakukan anak..


Terimakasih kepada Qia dan Bagas.
Kalian bener2 profesor besar buat Bunda...

Sabtu, 28 November 2009

Menjual Sisir pada Biksu















Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru. Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.

Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.

Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C). Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."

Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A : "Berapa banyak yang sudah anda jual?". Mr. A menjawab: "Hanya SATU." Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?". Mr. A menjawab: "Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B : "Berapa banyak yang sudah anda jual?". Mr. B menjawab : "SEPULUH buah." "Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung sang Budha."

Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C : "Bagaimana dengan anda?". Mr. C menjawab: "SERIBU buah!". Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran. Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?". Mr. C menjawab: "Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!"

MORAL DARI CERITA

Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.

Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan social dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.

Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."

"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita." (Meredith Grey, Grey's Anatomy - Season 3)

Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar; 85% kesuksesan 'sudah' di tangan anda.

Semoga sukses !. (from milist)

Senin, 16 November 2009

Sekolah Pertama (2)



















Saya kira kita perlu membuat pola solusi dengan dua bentuk ; solusi strategis dan solusi teknis.

Ini mengantar kita untuk mencoba mengajukan pertanyaan ; institusi apa saja yang sebenarnya terlibat dalam proses pendidikan ?

Kita akan bertemu dengan institusi : keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi, media masa, dan lingkungan kerja.

Pada usia pendidikan dasar dan menengah, antara usia 0 sampai 18 tahun, sebenarnya institusi keluarga dan sekolah yang sangat dominan dalam proses pendidikan anak. Ini jika dominasi itu diukur dari segi prosentase penggunaan waktu pada masing-masing institusi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak kita hanya menghabiskan 14% waktunya disekolah dan manghabiskan 86% sisanya dirumah. Angka ini tentu saja tidak absolut. Sebab dua institusi lain, yaitu organisasi dan media massa, masing-masing terjadi dirumah dan di sekolah. Misalnya, orang bisa membaca majalah atau koran dan menonton film dibioskop. Atau seorang anak menjadi anggota club olahraga, kesenian, kelompok belajar atau geng tertentu.

Sementara lingkungan kerja belum efektif dalam usia tersebut, sedang lingkungan masyarakat biasanya masih berskala kecil karena keterbatasan ruang lingkup pergaulan anak. Jadi, lingkungan keluarga masih tetap dominan dibanding institusi lainnya. Saya tidak ingin menafikan peran pendidikan formal dengan perbandingan ini. Tapi saya terutama ingin menggambarkan bahwa ada banyak yang bisa kita lakukan di tengah semua keterbatasan kita. Yaitu meningkatkan efektifitas proses pembelajaran dirumah kita. Walaupun begitu, saya tetap ingin menegaskan bahwa solusi strategis ada pada peningkatan efektifitas peran pendidikan dari semua institusi pendidikan yang telah saya sebutkan. Saya menamakannya JARINGAN PENDIDIKAN.


Baiklah, kita kembali ke rumah kita dan mencoba melihat seperti apakah suasana pembelajaran itu berlangsung.

Pendidikan dalam definisinya yang paling esensial dan sederhana adalah membentuk manusia. Dalam proses pembentukan manusia, pembelajaran merupakan proses menyerap kebenaran, kebaikan dan keindahan secara sadar dan terus menerus. Dalam definisi inilah maka proses pembelajaran menjadi wajib bagi seorang muslim dan muslimah sejak dari buaian sampai liang lahat.

Disini sebenarnya Islam mengajarkan teori : belajar sepanjang hidup. Tidak ada kata berhenti dalam belajar dan usia manusia tidak boleh dijadikan stasiun yang memisahkan antara belajar dan tidak belajar.

Jabaran lebih jauhnya adalah bahwa kita harus memindahkan suasana sekolah dan perguruan tinggi kedalam rumah kita.

Di dalam rumah kita harus ada tradisi berpikir sehat, serius dan metodologis, harus ada tradisi membaca yang intens dan kontinyu, harus ada tradisi diskusi dan dialog yang terbuka dan intens, Harus ada apresiasi yang terarah terhadap semua karya seni dan bentuk-bentuk keindahan.

Semua anggota keluarga harus menikmati proses pembelajaran itu ; dari ayah, ibu, anak, keluarga lain sampai pembantu. Tapi pada awal dan akhir dari proses pembelajaran itu haruslah selalu terbingkai dalam suasana dan makna ibadah. Tidak boleh hanya suasana spiritual yang dominan, atau hanya suasana ilmiah yang dominan.

Jadi dirumah harus ada masjid dan perguruan tinggi. Anak yang tumbuh dalam suasana itu akan cinta belajar seumur hidup dan akan melihat sekolah sebagai lembaga yang berfungsi sama dengan rumahnya.

Masalahnya adalah, sebagai orang tua, lebih sering mana anak Anda melihat Anda : sedang makan, sedang pergi kemasjid, sedang menonton televisi, atau sedang membaca ?

Sebab ada rumah yang bersuasana restoran, atau masjid, atau pasar, atau binatu, atau perguruan tinggi ?

PILIH YANG MANA ??

(disarikan dari uraian Ust. Anis Matta, Lc.)

Sabtu, 14 November 2009

Kerudung



















Pada suatu sore yang cerah setelah mandi dan rapi, dari dalam rumah Qia melihat ke arah luar. Dia melihat beberapa anak tetangga sedang bermain. Tiba-tiba dia berkata,
"Mbak Ika kan perempuan, kok gak pake kerudung? Ibunya juga gak pake kerudung? Mbak Dina juga gak pake kerudung, ibunya gak pake kerudung?"

Mendengar perkataannya sejenak aku terdiam. Rupanya dia sedang melihat fenomena yang terjadi di luar rumah dengan yang selama ini kami ajarkan di rumah bertentangan satu sama lain. Selama ini kami (aku dan suami) menekankan bahwa perempuan harus pake kerudung. Yang tidak pake kerudung adalah laki-laki. Dari perkataannya yang polos, aku segera menebak bahwa dia sedang berpikir adanya pola contoh atau figur dari ibu ke anak.

Setelah berpikir-pikir sejenak, akhirnya aku berkata, "Mbak Dea juga gak pake kerudung, ibunya gak pake kerudung. Mbak Tina gak pake kerudung, ibunya juga gak pake kerudung. Tapi Qia ikut bunda aja, ya. Bunda pake kerudung, Qia pake kerudung...."

Semenjak kejadian itu, ketika akan keluar rumah Qia tak lupa memakai kerudung. Karena dia melihat aku sebagai ibunya juga selalu memakai kerudung jika keluar rumah. Tak sadar kita sebagai orang tua adalah figur pertama yang dijadikan anak sebagai panutan untuk bertingkah laku.

Terima kasih kepada Qia yang telah percaya kepada Bunda...

(Semua nama telah disamarkan)

Rabu, 11 November 2009

Sekolah Pertama (1)







Terasa ada jarak yang jauh antara harapan kita dengan realitas pendidikan yang ada.

SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) yang dianggap banyak orang sebagai alternatif solusi tidak sanggup menampung anak-anak kita yang grafik pertumbuhannya cukup menakjubkan. SDIT itu sendiri mengeluh kekurangan dana karena sistem pendidikan ideal butuh dana besar, sementara rata-rata orangtua siswa (yaitu kita sendiri) berstatus ekonomi lemah alias sulit membayar harga tinggi. Sebab yang bisa membuat sekolah ideal dengan harga murah hanya pemerintah.

Segera saja terlihat tarik menarik yang kurang sedap antara harapan dan kenyataan. Dan di tengah tarik menarik itu berdirilah makhluk lain yang kita sebut : kemampuan.

Sementara itu, kita juga mendengar keluhan dari ibu rumahtangga, yaitu itri-istri kita, yang merasa tidak mendapat peluang memadai untuk mengembangkan diri, baik secara formal maupun nonformal.

Dua hal yang segera terekam dalam benak kita.

Pertama, pada umumnya kita sangat banyak menggantungkan proses belajar, baik anak-anak maupun istri kita, bahkan kita sendiri, pada institusi pendidikan formal atau melalui proses pembelajaran kolektif. Ini melahirkan kesan, bahwa proses belajar harus selalu kolektif dan selalu menuntut harga mahal karena terselenggara dalam institusi.

Kedua, semangat melahirkan banyak anak yang dianjurkan Rasulullah saw serta semangat mendapatkan pendidikan ideal tidak berjalan seimbang dengan semangat berusaha dan berekonomi. Kecenderungan terhadap solusi pembiayaan pendidikan melalui mekanisme donasi, subsidi silang, atau tuntutan biaya murah, sebenarnya semakin memperkuat asumsi lemahnya semangat berusaha di kalangan kita.

Sebagai sebuah arus sosial, kedua kecenderungan tadi tidak akan membantu menampilkan wajah sosial Islam dengan cara yang mempesona dan menarik untuk diteladani. Saya tentu saja tidak sedang menggugat semangat takaful sebagai suatu piranti sistem sosial Islam. Tapi yang utama ingin saya soroti adalah mentalitas kita dalam proses berislam, bahwa ada ketidakseimbangan antara semangat sosial dengan semangat ekonomi kita; bahwa ada ketidakseimbangan antara pengkondisian yang mendorong kita cepat menikah dan memiliki banyak anak serta obsesi pendidikan ideal untuk melahirkan Generasi Rabbani, dengan tarbiyah iqtishadiyah (ekonomi) yang kita peroleh.

Adanya donatur dan subsidi silang sebagai bentuk takaful tentu saja baik, keterampilan entrepreneurship tentu juga jauh lebih baik daripada keterampilan mencari donatur. Nikah cepat dan punya anak banyak jelas-jelas merupakan sunnah Rasulullah saw, tapi membuat kemampuan-kemampuan kita setara dengan tingkat tanggungjawab kita adalah sunnah yang jauh lebih penting. Bukankah berislam seperti yang kita peragakan dan secara perlahan membentuk wajah sosial kita, dengan cara begini, membuat Islam tampak terpenggal-penggal dan sama sekali tidak menarik ?