Kamis, 06 September 2012

Mudik Malam...



Dalam perjalanan mudik ke Tegal dari Bandung pada hari Selasa malam tanggal 21 Agustus 2012 kemarin, ada sesuatu teringat. Kejadian yang sudah lamaaa sekali. Mungkin saat itu aku belum sekolah. Belum masuk TK malah. Bagi orang lain, atau aku sendiri sebelum mudik terakhir mungkin terasa biasa aja. Tapi setelah mudik kali ini, menjadi sesuatu yang sangat berkesan.

Oya, sebelumnya kami pergi dari Ciparay Kabupaten Bandung, melewati Majalaya, Rancaekek, kemudian langsung tembus ke Cileunyi. Tak lama kemudian kami sampai ke Jatinangor Sumedang. Keluar dari Jatinangor, tiba di jalan yang berbelok dan mendaki mobil terhenti sekitar setengah jam. Sistem buka tutup diberlakukan entah karena apa. Setelah melewati sistem buka tutup, mungkin di sekitar Tanjung Sari mobil pun melaju tanpa halangan.

Melewati Cadas Pangeran yang melegenda, jalan yang berbelok dengan bukit di sisi kiri dan jurang di sisi kanan membuatku betul-betul merasa kembali. Jalan inilah yang dulu sering kulewati ketika masa-masa aku kuliah antara Bandung-Tegal. Kemudian mobil melewati jalan raya yang lebarnya sedang dan berbelok dengan di sisi kanan kiri rumah penduduk. Cukup panjang juga jalan ini. Sebelum memasuki kota Majalengka, masih di Sumedang  mobil melewati hutan yang cukup panjang. Tidak cukup lebat tapi banyak pepohonan. Jalanan gelap dan sepi sehingga mobil bisa melaju tanpa halangan berarti.

Dalam keremangan malam, ketika semua penumpang dalam mobil tertidur, kecuali supir pasti, aku memperhatikan jalanan. Tiba-tiba aku melihat, kenapa jarang aku lihat bus? Kebanyakan para pemudik malam ini menggunakan mobil pribadi. Pikiranku mulai melayang. Jauhhhh. Saat aku kecil kebanyakan para pemudik menggunakan bus, bukan mobil pribadi.

Saat kecil dulu aku juga mudik dari Tegal ke Sukabumi naik bus. Memilih malam daripada siang yang panas. Saat kecil dulu, malam-malam begini dalam bus aku juga tidak tidur. Tapi aku terbangun memperhatikan jalan, seperti saat ini. Saat itu, Ibu, Bapak, adikku tidur, sedangkan aku duduk di dekat jendela. Jadi saat itu aku dapat dengan bebas memperhatikan malam. Memperhatikan jalan-jalan yang kulewati saat ini yang sudah jauh berubah. Saat itu tentu saja jauh lebih sepi dan gelap. Dalam pikiranku yang saat itu masih kecil, suasana saat itu begitu mencekam dan mengerikan, dan untung saat itu aku dalam mobil bus yang hangat dan nyaman yang terus melaju.

Dalam pikiran masa lalu tersebut, tiba-tiba aku teringat sebuah kejadian. Kejadian yang menurutku luar biasa setelah aku mudik malam ini. Saat itu saat aku kecil entah saat itu aku sudah TK atau belum, aku lupa. Aku mudik bersama keluargaku dari Tegal menuju Sukabumi. Kampung halaman Bapakku. Ortu memilih perjalanan malam. Saat itu adalah saat-saat akhir Ramadhan. Aku tertidur selama dalam perjalanan.

Sampai di daerah Jawa Barat entah dimana, aku terbangun. Aku mendapati bus kami berhenti. Dan aku melihat Bapakku sedang makan nasi bungkus. Aku bingung, kok Bapak makan? Ketika kutanyakan, beliau menjawab sedang makan sahur. Aku melihat ke sekeliling. Penumpang yang lain juga sedang berkasak-kusuk sedang makan sahur. Semua penumpang berjaket, termasuk supir dan kondekturnya untuk menahan dingin. Melihat begitu nikmatnya Bapak makan, aku jadi ikut makan sahur dalam bus saat itu. Setelah beberapa lama, ada ribut-ribut di antara penumpang. Usut punya usut, ternyata supir busnya muntah-muntah. Supir busnya masuk angin. Waduh, waktu itu aku kepikiran gak bakalan sampai ke Sukabumi dehh..

Kami semua menunggu perkembangan. Semua penumpang duduk di kursinya masing-masing. Saat itu bus kami berhenti bukan di depan warung makan seperti bus-bus malam saat ini. Aku ingat betul, bus yang kami tumpangi adalah bus ekonomi biasa. Bukan bus kelas eksekutif. Keadaan di luar bus ramai tapi tidak terlalu ramai. Mungkin di luar banyak teman-teman dari supir dan kondektur bus yang kami tumpangi.  Tapi seingatku, kalau dibandingkan dengan sekarang cukup sepi. Aku perhatikan semua penumpang memakan bekal sahurnya yang dibawa dari rumah. Saat itu aku juga berhusnudzon (maklum masih kecil, dan semoga betul) bahwa semua penumpang termasuk kondektur dan supir bus yang kami tumpangi bersantap sahur. Masuk angin tidak menghalangi sang supir bus untuk tidak berpuasa. Dan karena seijin Allah-lah, entah lewat sang supir bus yang sedang sakit, atau memang supir memberi kesempatan kepada kami untuk bersantap sahur, bus berhenti. Setelah semua penumpang selesai bersantap sahur dan supir bus kami keadaannya membaik, Alhamdulillah kami dapat melanjutkan perjalanan. Aku dan keluargaku sampai ke Sukabumi dengan selamat.

Nah, menurutku kejadian itu sungguh begitu syahdu. Semua penumpang dengan penuh kesadarannya masing-masing menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semuanya terjadi dengan baik dengan sendirinya. Suasana Ramadhan sungguh sangat terasa dalam bus saat itu. Tanpa perlu diorganisir. Mungkin bus-bus malam sekarang akan berhenti di depan warung makan untuk memberi kesempatan para penumpangnya bersantap sahur. Tapi kita semua tidak akan tahu apakah semua penumpang memang perlu bersantap sahur atau tidak. Begitu juga supir dan kondektur.

Memang jaman aku kecil, mudik lebaran tidak seramai sekarang. Sekarang begitu ramai, sangat ramai. Para pemudik berbondong-bondong pulang kampung tanpa mempedulikan puasa mereka. Yang diperhatikan malah hal-hal lain. Misalnya bagi para pemudik bermotor, mereka menggunakan jaket yang sama. Atau mudik bareng teman-teman sekantor, seprofesi, dan lain-lain. Selama dalam perjalanan mereka saling berkomunikasi. Bergumul dalam hiruk pikuk kemacetan dan keramaian jalan raya.

Hilang sudah suasana Ramadhan selama mudik. Para pemudik dengan seenaknya makan, minum, merokok sembarangan. Tak jarang selama berkendara, para pemudik tak mengindahkan rambu-rambu. Menyerobot pun terasa biasa saja, L. Itulah sebabnya aku lebih memilih mudik setelah lebaran tahun ini, agar tak kehilangan suasana Ramadhan yang hanya setahun sekali.

Ketika mobil kami masuk Majalengka dan kami mulai menjumpai sekelompok pemudik bermotor berseragam, aku jadi berpikir. Lebih enak dulu, atau sekarang. Lebih baik dulu atau sekarang. Dulu mudik terjadi dengan baik karena kesadaran para pemudik sendiri. Pemerintah tidak terlalu repot jika menjelang masa mudik. Para pemudik lebih banyak menggunakan angkutan umum seperti bus atau kereta api.

Kalau sekarang, menjelang masa mudik, Pemerintah sibuk menyiapkan ini dan itu. Seperti infrastruktur jalan, posko kesehatan, tempat istirahat untuk kenyamanan para pemudik. Pendek kata, mudik jaman sekarang lebih terorganisir tapi kesadaran pemudik lebih rendah daripada dulu. Jadi kalau disuruh memilih, lebih baik mudik saat aku kecil atau sekarang, ya lebih baik mudik dengan kesadaran yang tinggi  pemudik dan dengan fasilitas seperti sekarang. (Wiwik Hidayati)

Kamis, 19 April 2012

Lebih Enak Dulu (dan Sekarang)



Menurutku, lebih enak dulu. Jaman belum ada teknologi secanggih sekarang. Jaman dulu, orang lebih bisa menepati janji. Hal-hal yang telah disepakati bersama beberapa hari, bulan, atau jam bisa dilakukan tepat waktu. Tidak bisa seperti sekarang, semuanya serba bisa cepat dibatalkan. Hal yang sudah direncanakan secara matang, dapat mudah dibatalkan dengan sms atau telepon.

Lebih enak dulu, anak-anak bisa bermain dengan bebas tanpa ada rasa kuatir diculik. Anak bebas keliling kampung, bermain di sawah atau kebun. Jaman saat tanah-tanah belum dipenuhi bangunan yang penuh sesak. Tak perlu mainan mahal seharga ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan. Semuanya sudah tersedia di lingkungan rumah. Dan itu cukup sekali memenuhi kebutuhan anak akan bermain. Dan yang enak, karena asyik bermain di luar rumah, rumah juga akan sering rapi. Orang tua tak perlu ‘teriak-teriak’ untuk membereskan mainan yang berserakan di dalam rumah. Paling-paling teriak untuk segera mandi, karena badan dan baju yang kotor karena lumpur:D.

Lebih enak dulu, tak ada games-games komputer atau hp atau gadget lainnya. Dulu anak bermain bersama karena memang saling membutuhkan. Anak bertemu kemudian memainkan permainan tradisional bersama . Kalau di daerah Jawa Tengah, ada permainan jamuran, benteng-bentengan, petak umpet, bersepeda keliling kampung dan lain-lain. Kalau sekarang, anak lebih suka main games di gadget yang tersedia di rumah. Kadang sering kesel juga melihat anak terus menerus depan komputer tanpa melakukan aktivitas fisik, tapi kalau disuruh main di luar rumah, kayaknya mereka bosen melakukan hal yang itu-itu saja seperti basket, bola, atau jalan-jalan/naik sepeda seputar komplek.....(heheheh ini sih pengalaman pribadi, padahal dulu masa kecil suka keluyuran).

Lebih enak dulu, jaman belum ada acara TV semeriah sekarang. Acara anak terbatas. Orang tua tak perlu mengatur jadwal nonton TV anak. Mau ngatur gimana? Lha wong, film kartun aja sehari Cuma sekali dan berlangsung Cuma setengah jam! Waktunya jam setengah 6 sore, jadi secara otomatis anak akan segera menyesuaikan diri untuk segera mandi dan aktivitas bersih-bersih lainnya. Dan yang lebih penting lagi, anak jadi banyak menghabiskan waktu untuk bermain, belajar, baca Qur’an setelah Magrib atau aktivitas yang lebih bermanfaat lainnya. Anak juga jadi tidur lebih cepat karena kelelahan dan malas nonton TV, karena sudah tidak ada lagi film kartun:D. Apalagi kalau dibandingkan dengan acara TV jaman sekarang, acara TV dulu memang membosankan untuk anak-anak.

Lebih enak dulu, jaman kurikulum sekolah tak serumit dan sesusah sekarang. Orang tua tak perlu pusing-pusing mengajarkan agar anaknya memahami pelajaran di sekolah. Atau bahkan memberikan les tambahan. Anak sekarang jadi harus sering belajar daripada bermain. Jaman sekarang kalau pun ingin bermain, daftarin aja anak ke kegiatan eskul sekolah. Tapi tentu saja ada biaya ekstra yang jauh lebih mahal. Atau anak disekolahin di sekolah yang menerapkan sistem belajar sambil bermain, itu juga perlu merogoh saku dalam-dalam. Jaman dulu, anak disekolahkan di sekolah negeri aja sudah cukup. Tidak perlu les, tidak perlu eskul. Karena lingkungan sudah menyediakan dan kurikulum juga mudah.

Lebih enak dulu, saat telepon masih menjadi barang mahal. Jaman dulu orang saling berkirim kabar lewat surat, atau kalau ada keperluan mendadak kirim lewat telegram. Orang jadi lebih tekun dalam mengekpresikan perasaan lewat tulisan. Tidak mudah meledak-ledak. Semuanya bisa disampaikan lewat tulisan. Kemudian yang lebih penting lagi adalah bersabar menunggu.

Tapi, jaman sudah berubah. Sekarang juga enak. Dengan segala berbagai kemudahan yang ditawarkan. Banyak hal yang dulu tak bisa dilakukan, sekarang dapat dengan mudah dilakukan. Dan yang lebih penting lagi, kita dituntut jadi orang tua cerdas. Kita harus pandai-pandai memutar otak, akal dan segala upaya agar semua nilai-nilai baik dapat diserap oleh anak-anak kita. Bagaimanapun, menurutku penyerapan nilai-nilai yang baik oleh anak paling mudah dilakukan dengan cara yang sudah dipaparkan di atas. Dan yang lebih penting lagi kita coba terapkan apa yang sudah dikatakan oleh Sahabat Nabi, Ali R.A. , ‘Didiklah anak sesuai dengan jamannya’.  Jaman anak kita, bukan jaman orang tua kita, atau jaman kita. Ini adalah jaman anak kita, yang kita sendiri tidak tahu seperti apa. So, kita ikuti tapi jangan lupa penyampaian nilai-nilai. Apalagi dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan jaman sekarang, semua bukan tidak mungkin akan terwujud. Jadi, sekarang juga enak....

Sabtu, 21 Januari 2012

Ulang Tahun Bapak



Aku dulu kuliah di Bandung, sedang adikku kuliah di Solo. Kedua orang tuaku tinggal di Tegal. Dari dulu aku bersama adikku dekat dengan Bapak. Kami sering meminta sesuatu yang kami inginkan justru kami utarakan kepada Bapak. Kami sudah mengenal kalau Bapak itu orangnya agak royal, hehehe. Untuk urusan senang-senang, Bapak sering mengabulkan. Berbeda dengan Ibu yang menurut kami waktu itu agak ‘pelit’. Yah, mungkin Ibu jadi rem untuk mengontrol kali, yaa...

Waktu itu biaya telepon lewat hp masih mahal. Kami masih sering berkomunikasi dengan orang tua lewat telepon rumah pada jam-jam tertentu. Saat ulang tahun Bapak tiba, kami berdua sering telepon ke rumah untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kegiatan ini rutin aku dan adikku lakukan. Padahal kami berdua tak pernah sama sekali merencanakannya. Tapi entah kenapa bisa kompak.

Kadang adikku duluan yang telepon ke rumah, kadang aku yang duluan. Dan ketika kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak, kata-kata terakhir yang kami ucapkan adalah, “Minta hadiahnya dong, Pak!” atau “Hadiahnya, mana Pak?”:-). Ini juga tanpa rencana lhooo, aku dan adikku memang kompak...Saat mendengar ucapan itu Bapak tertawa-tawa di seberang sana. Saat menelepon, biasanya Ibu yang mengangkat duluan dan ngomel-ngomel. “Bukannya ngasih hadiah, ini malah minta hadiah ke yang ultah!”

Sungguh aku sangat merindukan saat-saat demikian. Saat aku betul-betul menjadi seorang anak. Dan aku bukan menjadi orang tua. Ringan dan tanpa beban...

Dibonceng Dengan Sepeda Mini


Kisah ini terjadi tahun 1985. Kenapa aku ingat? Karena aku ingat persis saat itu aku masih kelas 1 SD. Saat itu adalah saat sepatu plastik dengan hak rada tinggi mirip sepatu ibu-ibu berwarna merah atau hitam menjadi trend. Aku bilang kepada Ibu, bahwa aku ingin dibelikan sepatu itu. Maka pada hari Minggu berangkatlah aku bersama Ibu ke pasar naik becak. Rutinitas mingguan yang biasa ibu lakukan. Sepatu yang aku inginkan ada di sana. Saat itu belum banyak mal-mal berdiri seperti sekarang. Sepatu yang aku inginkan itu ada banyak dijual di pasar berbarengan dengan pedagang sayur. Singkat kata aku memilih sepatu, mencobanya, kemudian Ibu membayarnya. Setelah Ibu selesai berbelanja kami pun pulang.
Entah kenapa, sesampainya di rumah ketika aku ingin mencoba sepatu baru dan memamerkannya kepada adikku, ternyata sepatu merah itu berbeda ukuran. Salah satu dari pasangan sepatu itu (entah kanan atau kiri, aku lupa) ukurannya kekecilan. Maka Ibu pun menyuruh aku kembali ke pasar untuk menukarkan kembali sepatu yang kekecilan tersebut. Kali ini aku ke pasar tidak bersama Ibu. Tapi bersama Bapak.  Tidak naik angkot, dan juga tidak naik becak. Tapi naik sepeda. Sepeda mini sebesar sepeda Qia yang berumur 5 tahun sekarang (untuk ukuran tubuh Qia, sepeda mini itu terlalu besar). Dengan sadel yang ditinggikan. Sehingga Bapak bisa dengan nyaman mengayuh sepeda itu. Aku duduk membonceng di belakang beliau sambil memegang sadel dengan kaki yang agak ditekuk.
Sampai sekarang aku masih merasakan sekali rasanya dibonceng waktu itu. Panas tanpa memakai topi, memandang ke bawah jalanan aspal yang serasa seperti terbang seiring dengan kayuhan Bapak yang semakin kencang. Sambil memegang sadel tempat duduk Bapak. Hhh..rasanya aku ingin kembali ke masa itu. Itu adalah salah satu kenangan terindah dalam hidupku. Aku sudah menceritakan pengalaman masa kecil ini kepada Qia dan Bagas. Ternyata mereka sangat menyukainya:). Aku tak tahu, mungkin cerita ini terdengar biasa saja, tapi sungguh aku terkesan dan mereka terkesan juga. Aku mungkin tak bisa membonceng Qia dan Bagas dengan sepeda di sini. Karena keadaan tak memungkinkan. Dengan kondisi tanah yang naik turun, mungkin aku hanya bisa membonceng mereka dengan motor. Semoga saat mudik nanti aku bisa membonceng mereka berdua dengan sepeda. Sambil mengenang, aku juga dulu pernah diperlakukan demikian:).

Rabu, 07 Desember 2011

Asal Adek Bayi










Ini adalah percakapan terhebat dengan Qia (5 tahun). Saat itu jelang tidur,
Qia sambil berbaring bermain-main dengan Akmal adiknya yg baru usia 10 bulan.

Qia     : "Bunda, gimana sih kok bisa ada bayi? Qia gak tahu."
Bunda : "Maksudnya?"
Qia      : "Iya, Akmal kan dulu gak ada. Cuma ada Qia dan Bagas. Kok skr kenapa bisa ada Akmal?
              Gimana sih bisa ada bayi?"
Bunda  : "Ooooo...itu. Gini, ya. Mulanya Ayah dan Bunda menikah. Trus Bunda sama Ayah berdoa ke 
              Allah, supaya Bunda sama Ayah diberi anak bayi. Trus..('sempet bingung). Qia ingat kan pernah
              dibacain buku Tuan Sperma dan Nyonya Ovum?"
Qia      : "O iya iya. Qia ingat! Yang Tuan Sperma dan Nyonya Ovum bertemu itu, ya?"
              (sebelumnya Qia udah sering dibacain buku 'Aku tahu Asal Muasalku')
Bunda : "Iya. Nah, setelah ketemu terus jadi satu telur.Trus, telur tadi sama Allah ditaruh dalam perut Bunda.
             Di dalam perut, telur yg jadi satu itu jadi besar dan besar, trus lahir deh adek bayi."
Qia     : "Oooo...jadi nanti di dalam perut Bunda, telinga keluar, hidung, mata, tangan,
             kaki semuanya    keluar.Jadi bayi."
Bunda : "Iya, betull."
Qia      : "Trus, nanti telurnya menetas. Trus keluar deh dari perut, adek bayi."
Bunda  : "Eit..eit..gimana kok bisa ada menetas segala? Maksudnya apa nih?
             (sambil memandang Akmal, masak bayi selucu ini ditetaskan kayak ayam?)
               Maksud Qia, Akmal keluar dari telur?"
Qia       : "Iya."
Bunda   : "Kayak ayam, dong." (sambil memandang tak tega ke Akmal)
Qia tertawa.

Bunda  : "Maksud Qia, Akmal keluar dari telur waktu masih di dalam perut Bunda
              atau di luar perut  Bunda?"
Qia      : "Di dalam perut Bunda, Akmal keluar dari telurnya! Trus dilahirkan!"
Bunda  : "Ooooo...kirain. Enggak Qia. Dari telur itu tumbuh telinga, mata, hidung, kaki, tangan,
              dan  lain-lain.Jadi gak seperti ayam yang ada dalam telur. Jadi di sini telurnya langsung
              berkembang jadi bayi. (Bingung juga, ya? Masak mau pake kata embrio, zigot?)
              Jadi Akmal tidak di dalam telur seperti ayam waktu dalam perut Bunda."
Qia       : "Oooo..jadi langsung, ya?"
Bunda    : "Iya. Masak Akmal yang lucu ini di dalam telur? Menetas lagi? Untung aja menetasnya
                masih  dalam perut Bunda.Kalo menetasnya di luar perut Bunda,
                berarti Bunda jadinya bertelur dongg...bukan   melahirkan!" 
Qia      : "Ha ha ha ha ha ha!" (Tawa Qia meledak dijawab oleh Akmal dengan bahasa bayinya yang lucu,
              ah uh ah uh!)

Percakapan malam itu begitu berkesan. Senangnya hati ini bisa menjawab keingintahuan anak tanpa harus berbohong.

Senin, 18 Juli 2011

Mendidik Anak














Mendidik anak memang susah gampang. Tak mungkin jadi dalam sehari, semua perlu waktu, semua perlu proses. Paling menyebalkan kalau kita sudah susah-susah mendidik anak dalam kebiasaan baik misalnya. Tiba-tiba karena sering main dengan kawan-kawannya, atau bahkan tidak sering main tapi kata-kata yang keluar dalam hal berkomunikasi menjadi dalam sekejap sangat berbekas di memori dan kebiasaan anak.

Misalnya dalam hal menanamkan kebiasaan baik. Anak dilarang bermain dengan berdiri di atas meja makan misalnya. Kalau anak sendiri, kita bisa langsung tegur. Kadang anak juga tidak merasa terima jika kawannya melakukan itu. Anak sendiri dilarang, tapi kawannya tidak dilarang walaupun di rumah kawan si anak sendiri. Kita hanya bisa menasihati anak kita, bahwa mereka tidak boleh melakukan itu. Yang paling repot, jika kawan anak kita melakukan hal tersebut di rumah kita sendiri. Walah, walah, walah....

Di sinilah pentingnya tarbiyatul aulad. Pendidikan anak tidak mengenal anak kita dan anak orang lain. Jadi untuk memudahkan, anggaplah kawan anak kita adalah anak kita juga. Jadi kita sebagai orang tua tidak akan sungkan-sungkan menegur dan meluruskan kawan anak kita jika mereka berbuat salah. Hal ini juga bisa menjadi pembelajaran pada anak kita sendiri, bahwa kita sebagai orang tua bersungguh-sungguh menerapkan kebiasaan baik. Dan yang paling penting anak kita sendiri akan merasakan adanya kesamaan ('keadilan') dalam mendidik....

*Thx, Teh Yuni, yang beberapa tahun lalu mengungkapkan tentang tarbiyatul aulad.
Buat Qia dan Bagas, teruslah bercerita apa-apa yang terjadi pada kalian...

Selasa, 08 Maret 2011

Melihat Akmal





Menulis tulisan ini sambil melihat Akmal. Bayiku yang baru berusia satu bulan. Anak ketigaku ini kalau dilihat sekilas mirip dengan Qia saat masih bayi. Walaupun Qia itu perempuan dan Akmal laki-laki. Sedangkan kalau dilihat lebih seksama, ada juga kemiripan dari Bagas. Mulut dan hidungnya mirip banget dengan Bagas. Apalagi kebiasaan yang selalu menarik bibirnya ke bawah apabila merasa 'tersinggung':D. Malam ini aku belum bisa tidur, karena sedang menunggu Akmal ngompol dan akan diganti dengan diaper, baru aku mau tidur.

Lucu sekali Akmal ini. Melihat Akmal serasa tak percaya. Anak sekecil itu bisa membesar seperti kakak-kakaknya yang lincah, banyak gerak, banyak ngomong, dan tak bisa diam itu. Apalagi Akmal memakai baju bayi yang pernah dipakai oleh 2 kakaknya Qia dan Bagas yang sekarang sudah membesar itu. Baju bayi tetap kecil, tapi yang memakai membesar. Rasanya tak percaya Qia yang 4 tahun, dan Bagas yang 2 tahun pernah memakai baju yang dipakai Akmal. Baju tiga generasi kata Bapakku. Dan kadang tak percaya juga, benarkah Qia dan Bagas pernah memakai baju yang sekarang dipakai Akmal:D. Karena Qia dan Bagas betul-betul anak-anak yang luar biasa. Lincah yang butuh ekstra kesabaran karena 'kekreatifan' mereka selama beraktivitas sepanjang hari. Qia dan Bagas yang super lincah, dulu kecil seperti Akmal.

Saat ada Akmal, rasanya seperti baru punya bayi. Padahal dia adalah anak ketiga. Benar, melihat Akmal rasanya seperti kembali ke jaman saat Qia masih bayi. Entah kenapa. Padahal saat baru ada Bagas rasa itu tidak ada. Saat baru ada Bagas, yang dirasakan adalah di rumah ada lebih dari satu batita yang harus diurus. Dan pengalaman punya anak lebih dari satu itulah yang dirasakan saat ada Bagas. Saat dimana mengasuh anak tak ada henti-hentinya. Huaaahhh..Rasa Akmal adalah seperti anak pertama mungkin terjadi karena aku sudah lupa bahwa aku pernah punya bayi. Mungkin juga waktuku terlalu disibukkan oleh kedua kakaknya yang lincah, yang sudah sibuk berlari kesana kemari sehingga aku jadi lupa bahwa Qia dan Bagas juga dulu adalah bayi. Qia dan Bagas dulu juga bayi yang lucu seperti Akmal.

Sepertinya yang merasakan itu bukan aku saja. Tapi Bapak Ibu juga. Yah mungkin sebabnya sama kali, yaa..Whatever kami senang ada Akmal. Qia dan Bagas juga sayang dan senang terhadap Akmal. Rumah jadi semakin ramai, walau kadang kepalaku jadi pusing karena ulah mereka. Semoga Bunda tetap bisa mendampingi kalian tumbuh yaaa anak-anakku sayangg....


by Wiwik Hidayati
Rabu, 09 Maret 2011 pukul 00.17
Sambil melihat Akmal dan dia belum ngompol juga...