Menurutku, lebih enak dulu. Jaman belum ada teknologi secanggih sekarang. Jaman dulu, orang lebih bisa menepati janji. Hal-hal yang telah disepakati bersama beberapa hari, bulan, atau jam bisa dilakukan tepat waktu. Tidak bisa seperti sekarang, semuanya serba bisa cepat dibatalkan. Hal yang sudah direncanakan secara matang, dapat mudah dibatalkan dengan sms atau telepon.
Kamis, 19 April 2012
Lebih Enak Dulu (dan Sekarang)
Menurutku, lebih enak dulu. Jaman belum ada teknologi secanggih sekarang. Jaman dulu, orang lebih bisa menepati janji. Hal-hal yang telah disepakati bersama beberapa hari, bulan, atau jam bisa dilakukan tepat waktu. Tidak bisa seperti sekarang, semuanya serba bisa cepat dibatalkan. Hal yang sudah direncanakan secara matang, dapat mudah dibatalkan dengan sms atau telepon.
Sabtu, 21 Januari 2012
Ulang Tahun Bapak
Aku dulu kuliah di Bandung, sedang adikku kuliah di Solo. Kedua orang tuaku tinggal di Tegal. Dari dulu aku bersama adikku dekat dengan Bapak. Kami sering meminta sesuatu yang kami inginkan justru kami utarakan kepada Bapak. Kami sudah mengenal kalau Bapak itu orangnya agak royal, hehehe. Untuk urusan senang-senang, Bapak sering mengabulkan. Berbeda dengan Ibu yang menurut kami waktu itu agak ‘pelit’. Yah, mungkin Ibu jadi rem untuk mengontrol kali, yaa...
Waktu itu biaya telepon lewat hp masih mahal. Kami masih sering berkomunikasi dengan orang tua lewat telepon rumah pada jam-jam tertentu. Saat ulang tahun Bapak tiba, kami berdua sering telepon ke rumah untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kegiatan ini rutin aku dan adikku lakukan. Padahal kami berdua tak pernah sama sekali merencanakannya. Tapi entah kenapa bisa kompak.
Kadang adikku duluan yang telepon ke rumah, kadang aku yang duluan. Dan ketika kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak, kata-kata terakhir yang kami ucapkan adalah, “Minta hadiahnya dong, Pak!” atau “Hadiahnya, mana Pak?”:-). Ini juga tanpa rencana lhooo, aku dan adikku memang kompak...Saat mendengar ucapan itu Bapak tertawa-tawa di seberang sana. Saat menelepon, biasanya Ibu yang mengangkat duluan dan ngomel-ngomel. “Bukannya ngasih hadiah, ini malah minta hadiah ke yang ultah!”
Sungguh aku sangat merindukan saat-saat demikian. Saat aku betul-betul menjadi seorang anak. Dan aku bukan menjadi orang tua. Ringan dan tanpa beban...
Dibonceng Dengan Sepeda Mini
Rabu, 07 Desember 2011
Asal Adek Bayi
Ini adalah percakapan terhebat dengan Qia (5 tahun). Saat itu jelang tidur,
Qia sambil berbaring bermain-main dengan Akmal adiknya yg baru usia 10 bulan.
Qia : "Bunda, gimana sih kok bisa ada bayi? Qia gak tahu."
Bunda : "Maksudnya?"
Qia : "Iya, Akmal kan dulu gak ada. Cuma ada Qia dan Bagas. Kok skr kenapa bisa ada Akmal?
Gimana sih bisa ada bayi?"
Bunda : "Ooooo...itu. Gini, ya. Mulanya Ayah dan Bunda menikah. Trus Bunda sama Ayah berdoa ke
Allah, supaya Bunda sama Ayah diberi anak bayi. Trus..('sempet bingung). Qia ingat kan pernah
dibacain buku Tuan Sperma dan Nyonya Ovum?"
Qia : "O iya iya. Qia ingat! Yang Tuan Sperma dan Nyonya Ovum bertemu itu, ya?"
(sebelumnya Qia udah sering dibacain buku 'Aku tahu Asal Muasalku')
Bunda : "Iya. Nah, setelah ketemu terus jadi satu telur.Trus, telur tadi sama Allah ditaruh dalam perut Bunda.
Di dalam perut, telur yg jadi satu itu jadi besar dan besar, trus lahir deh adek bayi."
Qia : "Oooo...jadi nanti di dalam perut Bunda, telinga keluar, hidung, mata, tangan,
kaki semuanya keluar.Jadi bayi."
Bunda : "Iya, betull."
Qia : "Trus, nanti telurnya menetas. Trus keluar deh dari perut, adek bayi."
Bunda : "Eit..eit..gimana kok bisa ada menetas segala? Maksudnya apa nih?
(sambil memandang Akmal, masak bayi selucu ini ditetaskan kayak ayam?)
Maksud Qia, Akmal keluar dari telur?"
Qia : "Iya."
Bunda : "Kayak ayam, dong." (sambil memandang tak tega ke Akmal)
Qia tertawa.
Bunda : "Maksud Qia, Akmal keluar dari telur waktu masih di dalam perut Bunda
atau di luar perut Bunda?"
Qia : "Di dalam perut Bunda, Akmal keluar dari telurnya! Trus dilahirkan!"
Bunda : "Ooooo...kirain. Enggak Qia. Dari telur itu tumbuh telinga, mata, hidung, kaki, tangan,
dan lain-lain.Jadi gak seperti ayam yang ada dalam telur. Jadi di sini telurnya langsung
berkembang jadi bayi. (Bingung juga, ya? Masak mau pake kata embrio, zigot?)
Jadi Akmal tidak di dalam telur seperti ayam waktu dalam perut Bunda."
Qia : "Oooo..jadi langsung, ya?"
Bunda : "Iya. Masak Akmal yang lucu ini di dalam telur? Menetas lagi? Untung aja menetasnya
masih dalam perut Bunda.Kalo menetasnya di luar perut Bunda,
berarti Bunda jadinya bertelur dongg...bukan melahirkan!"
Qia : "Ha ha ha ha ha ha!" (Tawa Qia meledak dijawab oleh Akmal dengan bahasa bayinya yang lucu,
ah uh ah uh!)
Percakapan malam itu begitu berkesan. Senangnya hati ini bisa menjawab keingintahuan anak tanpa harus berbohong.
Senin, 18 Juli 2011
Mendidik Anak
Mendidik anak memang susah gampang. Tak mungkin jadi dalam sehari, semua perlu waktu, semua perlu proses. Paling menyebalkan kalau kita sudah susah-susah mendidik anak dalam kebiasaan baik misalnya. Tiba-tiba karena sering main dengan kawan-kawannya, atau bahkan tidak sering main tapi kata-kata yang keluar dalam hal berkomunikasi menjadi dalam sekejap sangat berbekas di memori dan kebiasaan anak.
Misalnya dalam hal menanamkan kebiasaan baik. Anak dilarang bermain dengan berdiri di atas meja makan misalnya. Kalau anak sendiri, kita bisa langsung tegur. Kadang anak juga tidak merasa terima jika kawannya melakukan itu. Anak sendiri dilarang, tapi kawannya tidak dilarang walaupun di rumah kawan si anak sendiri. Kita hanya bisa menasihati anak kita, bahwa mereka tidak boleh melakukan itu. Yang paling repot, jika kawan anak kita melakukan hal tersebut di rumah kita sendiri. Walah, walah, walah....
Di sinilah pentingnya tarbiyatul aulad. Pendidikan anak tidak mengenal anak kita dan anak orang lain. Jadi untuk memudahkan, anggaplah kawan anak kita adalah anak kita juga. Jadi kita sebagai orang tua tidak akan sungkan-sungkan menegur dan meluruskan kawan anak kita jika mereka berbuat salah. Hal ini juga bisa menjadi pembelajaran pada anak kita sendiri, bahwa kita sebagai orang tua bersungguh-sungguh menerapkan kebiasaan baik. Dan yang paling penting anak kita sendiri akan merasakan adanya kesamaan ('keadilan') dalam mendidik....
*Thx, Teh Yuni, yang beberapa tahun lalu mengungkapkan tentang tarbiyatul aulad.
Buat Qia dan Bagas, teruslah bercerita apa-apa yang terjadi pada kalian...
Selasa, 08 Maret 2011
Melihat Akmal
Menulis tulisan ini sambil melihat Akmal. Bayiku yang baru berusia satu bulan. Anak ketigaku ini kalau dilihat sekilas mirip dengan Qia saat masih bayi. Walaupun Qia itu perempuan dan Akmal laki-laki. Sedangkan kalau dilihat lebih seksama, ada juga kemiripan dari Bagas. Mulut dan hidungnya mirip banget dengan Bagas. Apalagi kebiasaan yang selalu menarik bibirnya ke bawah apabila merasa 'tersinggung':D. Malam ini aku belum bisa tidur, karena sedang menunggu Akmal ngompol dan akan diganti dengan diaper, baru aku mau tidur.
Lucu sekali Akmal ini. Melihat Akmal serasa tak percaya. Anak sekecil itu bisa membesar seperti kakak-kakaknya yang lincah, banyak gerak, banyak ngomong, dan tak bisa diam itu. Apalagi Akmal memakai baju bayi yang pernah dipakai oleh 2 kakaknya Qia dan Bagas yang sekarang sudah membesar itu. Baju bayi tetap kecil, tapi yang memakai membesar. Rasanya tak percaya Qia yang 4 tahun, dan Bagas yang 2 tahun pernah memakai baju yang dipakai Akmal. Baju tiga generasi kata Bapakku. Dan kadang tak percaya juga, benarkah Qia dan Bagas pernah memakai baju yang sekarang dipakai Akmal:D. Karena Qia dan Bagas betul-betul anak-anak yang luar biasa. Lincah yang butuh ekstra kesabaran karena 'kekreatifan' mereka selama beraktivitas sepanjang hari. Qia dan Bagas yang super lincah, dulu kecil seperti Akmal.
Saat ada Akmal, rasanya seperti baru punya bayi. Padahal dia adalah anak ketiga. Benar, melihat Akmal rasanya seperti kembali ke jaman saat Qia masih bayi. Entah kenapa. Padahal saat baru ada Bagas rasa itu tidak ada. Saat baru ada Bagas, yang dirasakan adalah di rumah ada lebih dari satu batita yang harus diurus. Dan pengalaman punya anak lebih dari satu itulah yang dirasakan saat ada Bagas. Saat dimana mengasuh anak tak ada henti-hentinya. Huaaahhh..Rasa Akmal adalah seperti anak pertama mungkin terjadi karena aku sudah lupa bahwa aku pernah punya bayi. Mungkin juga waktuku terlalu disibukkan oleh kedua kakaknya yang lincah, yang sudah sibuk berlari kesana kemari sehingga aku jadi lupa bahwa Qia dan Bagas juga dulu adalah bayi. Qia dan Bagas dulu juga bayi yang lucu seperti Akmal.
Sepertinya yang merasakan itu bukan aku saja. Tapi Bapak Ibu juga. Yah mungkin sebabnya sama kali, yaa..Whatever kami senang ada Akmal. Qia dan Bagas juga sayang dan senang terhadap Akmal. Rumah jadi semakin ramai, walau kadang kepalaku jadi pusing karena ulah mereka. Semoga Bunda tetap bisa mendampingi kalian tumbuh yaaa anak-anakku sayangg....
by Wiwik Hidayati
Rabu, 09 Maret 2011 pukul 00.17
Sambil melihat Akmal dan dia belum ngompol juga...
Selasa, 09 November 2010
Sosok Bapak Tercinta

Oleh bidadari_Azzam
Beliau tak banyak bicara, namun jika mulai bercerita, pasti sulit menyudahinya. Wajahnya tampak sangar, kata teman-temanku. Namun jika beliau melempar senyum, maka keramahan yang tulus terpancar jelas di matanya. Penampilan beliau sangat necis, rapi sekali, sepatu tanpa debu, celana panjangnya mulus selalu, seperti usai disetrika. Yah, bapak yang sangat “dekat” denganku, sangat menjaga dan memperhatikan putra-putrinya. Salut dan bangga kami, bersyukur padaNYA yang mengirimkan kami seorang bapak sehebat beliau.
Kalian pasti tak tau bahwa di balik penampilan necisnya, beliau sangat mandiri. Celana mulus dan rapinya terkadang disetrika sendiri. Kemeja dan celana beliau selalu awet, tidak kusam, tidak kusut, tampak seperti baru walaupun sudah puluhan tahun dipakai. Bapak sering merendam pakaian sendiri, mencuci, mengangkat jemuran, menyetrika, bahkan memasak sendiri, padahal dinas kerjanya “shift-shift-an”, kadang pagi, sore ataupun malam, pasti lelah! Subhanalloh… Hal tersebut dilakukan beliau karena tergugah rasa hatinya untuk membantu sang istri yang saat itu memiliki anak-anak kecil dan bayi-bayi, enam putra-putri. Tetangga kanan kiri terbiasa melihat beliau menyapu teras, mengelap jendela atau sepeda motornya, juga membersihkan halaman, kadang-kadang bersama sang istri, mesra sekali bekerja sama saat berbenah seperti itu.
Kemudian ketika anak-anak sudah lumayan besar, barulah bapak mengajarkan mereka perlahan, Saya dan kakak diajarkan menyapu, mencuci piring, menyetrika dengan baik, dan pekerjaan rumah lainnya oleh beliau. Khususnya Saya yang hampir bontot, serta dijuluki si tangan pena gara-gara lebih rapi kalau menulis dibandingkan saat melipat pakaian atau urusan dapur, bapak mengajarkan ilmu “nyuci-nyetrika” saat Saya mulai masuk kuliah, pertama kalinya berpisah jauh dengan orang tua. Sejak kecil kala menerima raport dengan nilai terbaik sebagai juara, yang mengambil raport adalah ibuku sebab bapak sedang dinas. Namun yang namanya lebih beken adalah bapakku, sebab memang di kompleks perumahan kami, berita lebih cepat terdengar melalui bapak-bapak, yang satu shift kerja, satu tim olahraga, atau satu tim ronda.
Saya masih ingat, bapak sering memandikan anak-anaknya, terutama sore hari, kala ibu menyiapkan kudapan teh sore. Kemudian ketika kami satu persatu mulai lebih sibuk, kakak kuliah, ada yang s-m-a, s-m-p, Saya yang masih SD sering dijemput pulang sekolah. Ketika beliau sibuk menjemput kakak-kakak lainnya, Saya disuruh bersepeda ke sekolah dengan menyemangati bahwa olahraga sepeda sangat menyehatkan. Beliau nasehati untuk bersepeda bareng dengan tetanggaku yang satu sekolah. Kalau sepeda rusak, “mang Otong” sebagai mantan sopir beliau (yang berubah posisi menjadi pengayuh becak) akan menjemput Saya ataupun kakak lainnya. Berjalan kaki sering, terutama di siang hari. Bapak sangat protektif terhadap anak-anaknya, terutama empat putrinya. Jika kami pulang les atau ekskul namun hari menjelang maghrib, bapak dan ibu sudah menanti di depan pintu, sungguh perhatian mereka sangat besar dan mengharukan.
Makanya saya heran dengan remaja sekarang, kenapa mudah sekali bepergian di malam hari sendirian, dan jika orang tua menasehati, dikira “over-proteksi”. Saya pernah saling curhat dengan guru sekolah, guruku yang ramah dan baik hati, beliau berkisah bahwa papanya selalu mengantar-jemput sampai beliau lulus kuliah! Beliau harus melampirkan jadwal kuliah dan jadwal harian lainnya di rumah agar papa dan mamanya tau, dan jika pulang terlambat, akan dimarahi habis-habisan. Namun guruku ini sangat bersyukur, beliau mengerti kekhawatiran orang tuanya, apalagi dia berada di kota yang terkenal dengan istilah umum, “ayam kampus”. Sehingga beliau pun menasehati untuk banyak bersyukur karena memiliki orang tua yang penuh perhatian.
Untunglah bapakku tak segarang itu, bahkan marah pun jarang. Kalau beliau marah, pasti diam. Dan diamnya itu sangat mengerikan buat kami, seolah berkata “silakan urus diri kalian masing-masing”. Tentulah kami menjadi sangat segan padanya, tidak ingin membuaatnya marah atau terluka.
Setiap hari pulang kerja, bapak membawa telur rebus (direbus saat senggang di kantornya) dan susu UHT buatku dan adik. Kalau di antara kami sakit dan harus dirawat di rumah sakit, bapak yang sibuk mondar-mandir antara rumah dan rumah sakit, beliau meminta ibuku yang menjaga di rumah sakit, sedangkan urusan rumah, beliau yang mengambil alih, subhanalloh, rumah kami tetap bersih dan rapi, padahal tentulah lelah usai beliau bekerja seharian.
Selanjutnya tatkala 13 tahun lalu beliau bingung dengan kegigihanku ingin menggunakan hijab, namun beberapa bulan sebelum awal masuk sekolah yang baru, Bapak memberikan dana kepada ibuku, “belilah pakaian seragam baru dan kerudung seperti yang anakmu inginkan…”. Dugaanku, sahabat-sahabat beliau memberikan saran yang baik tentang ini.
Suatu peristiwa yang membuat bapak “mendiamkan Saya”, saat awal kuliah semester dua, Saya malah minta izin buat ujian SPMB lagi tahun berikutnya dan untuk menikah di usia yang baginya sangat belia. Saya dikira mengalami gangguan jiwa apalagi calon suami adalah mahasiswa berbeda pulau, berbeda latar belakang, ‘maisyah’ seorang mahasiswa tentulah tak seberapa. Bapak marah besar. Sikap beliau merasa seolah “ ada apa ini ? sehebat apa sih mahasiswa itu sehingga kamu ingin menikah padahal Bapak kan memenuhi semua keperluanmu”. Benar. Bergulirnya waktu di tahap khitbah itu, saat bapak masih syok dan belum sepenuhnya ikhlas, malah beliau perlahan mengajariku berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya, “sulit lho… ngurus suami, ngurus kuliah, ngurus anak pula…”, Saya melihat sikap beliau berusaha tegar. Dan mamandaku bercerita, “malam itu bapak menangis seraya berkata,’Saya sulit melepas anak perempuanku’…”. Di saat super sedihnya itu, beliau masih menyiapkan bekal cincin emas buat simpananku.
Atas kebesaran Allah SWT, Dia Sang Penjaga Hati setiap insan, selalu menjaga kemudahan dan kelancaran rumah tangga kami, yang mana dalam hitungan satu tahun pertama adanya puncak kesulitan mengatur emosi, memahami satu sama lain, serta menata jadwal perkuliahan dengan urusan rumah tangga yang saat itu memiliki si sulung Azzam yang baru lahir. Tatkala awal kelahiran si sulung, Bapak menggendongnya, seraya berbisik, “utamakan keluarga… suami dan anak-anakmu harus didahulukan daripada kuliahmu itu,” nada suaranya menasehati bercampur sedikit kecewa.
Namun tahun selanjutnya, semakin penuh senyum wajahnya melihat kesungguhan kami melalui tangga-tangga kehidupan berumah tangga. Saya kembali menikmati canda dan tawa bersama beliau, bersama motor kesayangannya, bersama menikmati pempek atau martabak kesukaan kami, apalagi beliau makin menjadi sosok bapak yang sholeh, 5 tahun lalu bapak dan ibu telah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan awal tahun lalu kami berlibur ke negara tetangga, di suatu pulau yang dikelilingi pantai seraya menyambut cucu kesembilan baginya, yang baru kulahirkan. Suatu malam sebelum berangkat ke acara wisudaku, ibuku kembali berkata, “bapak menangis… (lagi)”. Dulu tangisnya mungkin merupakan kebingungan dan berkecamuk rasa kecewa padaku, namun tangis yang satu ini adalah tangis kebahagiaan, serta rasa syukur kepadaNya, “ternyata kamu memang anak wanita yang tetap bapak banggakan, pilihanmu dulu adalah jalan yang terbaik, malah merupakan petunjuk dan pelajaran buat orang tua,” seraya beliau panjang lebar memujiku dan suamiku atas tekad dan semangat juang dalam rumah tangga muda ini.
Suamiku yang sering menggoda, “kamu anak bapak banget…”, ternyata juga mengacungi jempol untuk bapak, “sekarang aku malah malu sekali kalau ingat kisah dulu, aku tau banget perasaan seorang bapak saat sekarang sudah jadi bapak. Dulu koq aku berani banget melamar kamu, padahal masih mahasiswa, cuma jagain lab plus ngajar privat doank, ehhh…trus sok dewasa bilang ‘atas nama Allah’ Saya akan jaga anak bapak…ckckck…untunglah punya bapak yang pemaaf dan selalu optimis, ya mi… aku mungkin tidak sehebat bapakmu, mi… Kata bapak, semasa anak-anaknya balita, kalau susah BAB(buang air besar), maka bapak sendiri yang melakukan cara manual (maaf, mengisap bagian anus agar ada reaksi ingin BAB, maksudnya begitu), kalau anak-anaknya ingusan/pilek, bapak menghisap ingus tersebut sampai benar-benar bersih, kalau anak-anaknya terluka, bapak isap juga darah tersebut lalu beliau meludah, barulah ditutup dengan obat luka. Kalau aku,mungkin masih merasa jijik melakukan itu, mi… sorry… “, urainya. Duhai Bapak tercinta, terima kasih banyak atas dukunganmu di saat orang lain tidak mendukung kami...
Dalam sebuah hadits Al-Bukhari, diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya menemuiku untuk meminta (sedekah), namun ia tidak menemukan apa pun padaku kecuali sebuah kurma yang kuberikan kepadanya dan ia bagi dua untuk anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak memakannya, setelah itu ia pun bangun dan pergi. Kemudian Nabi Muhammad Saw menemuiku dan kuberitahukan kejadian itu kepadanya. Maka Nabi Muhammad Saw bersabda, “siapa pun yang diuji dengan anak-anak perempuannya dan ia menyenangkan mereka dengan kebajikan maka anak-anak perempuannya akan menjadi perisai mereka dari api neraka”.
Duhai bapak, saat orang lain merasakan jauh dengan orang tuanya, efek globalisasi yang membuat hubungan orang tua dan anak merenggang, malah engkau tetap harmonis bersama anak-anakmu, Terima kasih Ya Allah, engkau memberikan bapak terbaik buatku.
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa menanggung dua anak perempuan hingga baligh, ia akan datang pada hari kiamat bersamaku’. Rasulullah SAW lalu menyatukan jari-jari beliau.” (HR. Muslim, no. 2631)dalam riwayat Imam Ahmad dll juga disebutkan kata “dua atau tiga anak perempuan…” serta “atau saudara perempuan”, Semoga kami selaku anak-anak perempuan dapat menjadi ‘simpanan akhirat’ sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut.
Wallohu’alam…
(Selamat hari Lahir Bapak kami yang bangga memiliki 2 putra dan 4 putrinya, 65 tahun, dengan 9 cucu, tanpa uban, iringan doa ananda selalu, Krakow, akhir September 2010)
Sumber : Oase Iman - Eramuslim


